Lihatlah Warna pada Cahaya

Waktu kuliah, saya meniatkan untuk menyelesaikan kuliah di semester ke-7. Seorang teman bilang begini, “Model bossy kayak lo mah skripsi aje. Jangan ambil Student Project. Entar stres sendiri.”

Antara mau sok-sok mau membuktikan kalau saya ini bisa, lhooooo, diajak bekerja sama dan termakan ucapan pembimbing akademik, “Kalau mau berkarier di bidang profesional, kerja kantoran, mending ambil student project saja. Lumayan, lho, dapat ilmunya,” saya memutuskan mengambil jalur non skripsi.

Mata kuliah seminar lancar satu semester. Diantara ke-3 anggota, perempuannya cuma 1, drama bisa diminimalisir hahaha. Kami bertiga punya kelebihan berbeda-beda, sinerginya sangat bagus dan kami bertiga terbilang sukses membawakan presentasinya.

Saya gagal wisuda di bulan februari karena student project molor. Bisa diduga saya stres sendiri. Tetap memaksa memasukkan jadwal presentasi akhir untuk slot pertengahan maret.

Working with 4 others in Student Projects  :D (Source : scotland.gov.uk)

Working with 4 others in Student Projects 😀 (Source : scotland.gov.uk)

Di tim kami, 2 laki-laki, 3 perempuan. Kedua teman perempuan lain, tanpa sepengetahuan saya, mengubah jadwal presentasi dengan alasan belum siap. Mudah ditebak, eike mengamuk bak singa. Tidak tanggung-tanggung, walaupun kedua teman ini terhitung kawan dekat, saya telponin satu-satu. Ini masih modal telepon umum di warnet sebelah kosan, Bo’. Waktu mau membayar di kasir, mas-mas penjaganya sampai grogi gitu, lho. Secara ya, eike berteriak-teriak kayak orang gila sekitar setengah jam. Hahaha.

Akhirnya kami tetap presentasi juga. Hanya mundur 2 minggu. Begitu lulus, saya sudah niatkan untuk mentraktir teman satu tim, hitung-hitung sebagai sedikit permintaan maaf atas tingkah laku yang sangat menjengkelkan nan gengges selama proyek itu berlangsung hihihihi. Padahal dana super tiris. Dua bulan terakhir itu saya memutuskan untuk cuti mengajar sebagai tutor matematika untuk anak-anak ekspat. Mau konsentrasi biar beneran bisa lulus februari.

Apa hendak dikata, walau akhir maret dinyatakan lulus secara akademik, saya tetap harus membayar uang kuliah di semester 8 walau tak ikut kuliah lagi. Tapi happy ending juga, langsung dapat kerja. Alhamdulillah.

Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)

Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)

***

Mungkin karena itu saya tak pernah punya banyak teman dekat. Enggak pernah punya geng perempuan. Abisnya, dikit-dikit pundung, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngamuk. Siapa pula yang mau berteman dengan orang gila? 😀.

And then… I came to Jeddah. Hidup sehari-hari berteman tembok dan waktu itu belum maksimal hobi menulisnya, memaksa saya untuk mau tak mau kudu bergaul lebih intensif. Kaget juga dengan lingkungan baru ini.

Waktu mencoba berbasa-basi dengan seorang teman, sambil tersenyum seimut mungkin, “Wah, tasmu bagus, lho, Mbak.”

Dia menjawab cepat, “Iya. Di Indo ini harganya 24 juta! Kalau di Jeddah cuma 4000 riyal.”

Langsung syok, gak lo? Hahahaha. Apa-apaan ini?

Belum lagi waktu saya bertanya soal sofa.

“Beli di IKEA saja,” kata salah seorang teman. “Eh, tapi mahal, sih. Kan kamu baru datang. Sudah, menabung dulu saja. Kita-kita aja dulu nunggu 2 kok baru beli sofa. Mending uangnya ditabung buat beli rumah di Jakarta. Pasti belum punya rumah kan di Jakarta?”

Aduh, kalau tidak ingat lagi di Negeri Orang, rasanya pengin cakar-cakar muka waktu itu! hahahahaha. Sombong amat, pikir saya.

Berhari-hari saya mengeluh pada suami. Minta pulang ke Jakarta lah, menganggap mereka semua enggak asyik diajak berteman, dan bla-bla-bla lainnya.

Suami saya hanya menjawab dengan satu kalimat, “Berhari-hari kok cuma bisa melihat jelek-jeleknya orang saja. Ayolah, baru juga kenal. Lagian, apa kamu sendiri tidak punya sifat jelek?”

Plak! Berasa ditampar keras. Saya jadi berpikir-pikir. Astagfirullah. Kalau diingat-ingat, selama masa-masa perkenalan pun, saya terhitung sudah berani membully orang. Kebiasaan lama, suka ngeledekin orang depan umum. Suka berbicara dengan nada pedas nan tajam.

Misalnya, nih, ada teman menyodorkan masakannya dan bertanya, “Gimana, enak, gak?”

Teman-teman lain tanpa pikir-pikir langsung merespons, “Enak, kok. Enak banget. Rasanya pas.”

Saya dong, tembak langsung, “Kurang garam gini kaleeee…” <— minta ditampol gak, tuh? 😛.

Pelan-pelan saya mengubah cara berpikir saya. Agak berat, karena sudah ngelotok terlalu lama. Tapi keterpaksaan membuat semuanya kudu dilewati. Kalau enggak punya teman, bunuh diri aja kali tinggal di Jeddah hihihihi.

Bulan demi bulan, perubahannya mulai terasa. Bergaul lebih dekat dengan mereka. Mulai mengesampingkan hobi sebagian besar mereka yang sangat bertentangan dengan falsafah hidup saya *tsaaahhh*. Pelan-pelan mulai kelihatan, mereka punya keunikan masing-masing dan sarat dengan kebaikan yang selama ini tertutup karena eike sibuuuuukkkk aja nyari yang jelek-jeleknya 🙁.

Lucunya, malah berteman akrab dengan salah satu madam yang dikenal sebagai ratu belanja . Saya juga bingung, kok bisa senang sekali mengobrol dengannya. Seru aja gitu. Paling suka main-main ke rumahnya. Ngobrol lama gak kerasa, malah santai saja ngabisin kue-kue bikinannya <— tidak tahu diri 😛.

Walau tak suka belanja, sesekali saya ikut tur bersama mereka. Ampun dah para madam. Begitu keluar dari toko, saya pasti sibuk nyari bangku, dengkul pegal-pegal pengin istirahat sebentar. Mereka, seolah enggak ada capeknya, begitu keluar pintu, langsung sibuk jelalatan cari toko mana lagi yang bisa dimasukin. Hahahaha *ketawaStres*.

Shopping Ladies :D (Source : www.clipofart.com)

Shopping Ladies 😀 (Source : www.clipofart.com)

Mereka juga jago-jago masak. Tidak segan-segan mengadakan cooking class di rumah mereka, menyediakan waktu-tenaga-biaya pribadi dimana biasanya yang benar-benar memasak cuma 2-3 orang, sisanya (sekitar 6-8 orang) ngerumpi la yauuwww hehehe.

Seorang yang usianya jauh lebih muda juga menunjukkan bahwa usia bukan ukuran kedewasaan. Suatu kali kami terjebak dalam perselisihan sengit. Teman ini yang paling tenang dan tidak ikut-ikutan, tetap berkawan baik dengan kedua kubu yang sudah benar-benar saling meledak. Good for her 🙂.

Seorang yang lain mengajarkan keikhlasan, setia menolong dalam hal apa pun, kapan pun, kepada siapa pun . Ah, ya ampun, saya sering berpikir jangan-jangan berteman dengan saya adalah cobaan buat mereka hehehe.

Makanya, bukan hanya kesadaran bahwa kepindahan kami di awal tahun ini akan menciptakan jarak sedemikian jauh dengan kedua kota suci Mekkah dan Madinah yang membuat kami sempat ragu apakah akan pindah atau tidak. Minggu-minggu pertama yang terasa sulit beradaptasi dengan mereka malah menjlema menjadi minggu-minggu perpisahan yang penuh drama. Mewek melulu. Sedih banget rasanya, seumur-umur enggak punya geng, ternyata takdir membawa kami pergi menjauh dari mereka.

Source : www.bigstockphoto.com

Source : www.bigstockphoto.com

Kami? Iya, karena suami saya juga begitu. Menurut suami, “Di Jeddah enak, ya. Karena kita temenannya benar-benar antar keluarga. Suami saling cocok dengan suami. Istri-istri juga begitu. Anak-anak apalagi.”

Walau saat perpisahan di taman dan saat di bandara, eike steril dari airmata, tidak berarti kesedihannya sudah padam. Cuma ya, malu saja rasanya kalau saya membiarkan perasaan mengambil kendali. Ih, gengsi dong, menangis bombay depan umum. Jaga wibawa *benerinPoni*.

Tidak berarti setelah mengenal mereka saya akan mengubah prinsip. Eit, keluarga gober is keluarga gober . Justru berada di tengah-tengah geng elit ini mengajarkan kami, hey, berteman tidak mesti seragam, lho . It’s ok to be different . Lagian mana seru, satu bawa Nissan, semuanya ikut-ikutan. Satu pakai LV, semuanya membebek. Sesekali perlu ada yang pakai Yaris dan pakai tas Jarir biar bisa jadi bahan lucu-lucuan .

Kalau satu kelompok semuanya orang narsis ya mana seru. Kalau semuanya diam, ya siapa dong yang ngajak ngakak-ngakak. Kalau semuanya bawel, siapa dong yang bertugas mendinginkan suasana . Bahkan untaian pelangi terlihat indah karena ada 7 warna berbeda yang merekat menjadi satu yang digambarkan dalam sebuah lirik, “Pelangi, pelangi alangkah indahmu … merah, kuning, hijau, di langit yang biru.”

Kalau cuma satu warna namanya bukan pelangi . As “Strength lies in differences… not in similarities” .

my angels jeddah

***

Bodoh kalau mengira kita hanya akan bisa berteman dengan baik dan benar dengan orang-orang yang serupa dengan kita 🙂.

Saya pun terlalu sering mengeluhkan banyak hal. Waktu student projects kuliah, saya lupa. Diantara semua anggota, hanya saya yang ngebet pengin lulus. Sisanya masih harus berjuang di Kerja Praktik. Saya paksakan mereka berpacu mengikuti cara saya. Saya anggap mereka yang tak cakap. Tak konsisten lah, egois lah, padahal coba yaaaa … *sodorin kaca ke diri sendiri*.

Di Jeddah, saya gampang betul memberikan penilaian buruk kepada teman-teman baru saya waktu itu. Padahal lupa, memangnya situ sudah sempurna?

Ingat dong, sama-sama manusia … seperti tercantum dalam salah satu ayat suci, “Manusia, tempatnya salah dan lupa.” Berlaku untuk semua orang yang merasa dirinya manusia . Situ bukan malaikat, kan? 😛.

Allah sudah menciptakan tiap insan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pandai-pandai mengenali kekurangan diri sendiri sebelum menuntut kesempurnaan dari orang lain. Lagipula, manusia yang sempurna bukanlah seseorang yang tak pernah berbuat salah. Tapi mereka yang berbuat salah kemudian menyadarinya dan meminta maaf dengan tulus . Walau sulit, lebih sempurna lagi bila berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama .

Maka dari itu, menjelang ramadan yang akan segera berakhir ini, saya meminta maaf ya kalau ada salah-salah kata atau pun status yang menyinggung, baik yang disengaja maupun yang sangat disengaja hehehe .

Untuk madam-madamku di Jeddah, “If there ever comes a day when we can’t be together keep me in your heart, I’ll stay there forever (Winnie The Pooh)” As for me, you all are forever in my heart  (macam menggombal ke pacar saja, ya, hehehe).

Akhir kata, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Tidak berarti kalimat ini menandakan akhir ramadan karena masih ada waktu lho untuk memanfaatkan jam-jam terakhir untuk terus mengais amal di bulan penuh rahmat ini . Dengan harapan yang seragam … “semoga Allah menerima amalan kita semua.”

Amin, amin ya rabbal aalamiin :).

***

7 thoughts on “Lihatlah Warna pada Cahaya

    • Iya, berbeda itu seharusnya indah, asal tahu cara menyikapinya. Nasihat untuk saya sendiri juga ini maksudnya 😀

  1. Itulah tim, memang kudu ada yg karakternya koleris, ada yg melankolis, lengkap kalo ada yg phlegmatis, juga sanguinis. Kalo karakternya kebanyakan sama koleris-nya, bakal timpang.

    OOT, mbak Jihan apakah sudah kepikiran bikin novel dg latar belakang budaya di Jeddah, pasti bakal menarik nih.

    Taqobbalallahu minna wa minkum, ‘n happy eid mubarak ya.

  2. bener, Jihan. Aku lagi mikir di my circles juga beda-beda, dan kalo bisa menerima itu bikin kaya. Dua circle terdekatku sudah melewati 13 tahun dan 7 tahun, dan kami berbeda banget, ada friksi dikit pastinya tapi setelah selesai kembali yayang yayangan lagi.Lagian kalo bersahabat itu memang dasarnya kalo sayang ya perbedaan itu malah jadi bahan asik buat ketawaan ya *jadi inget pelem Friends lagi*. Btw ini diganti ya ilustrasinya, kayakya pas baca di bb dan gak bisa komen dlu potonya pas poto kalian rame rame deh *atau salah inget*

    • Waahhh, 13 tahun? Kereeennn ^_^ *kasi13Jempol*. Mungkin postingan lain. emang sering banget pajang foto-foto madam Jeddah d beberapa postingan 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *