God’s Gift to You

Ini adalah sebuah foto lama antara saya, ibu, kakak dan adik saya. Fotonya biasa-biasa saja. Tapi ketiga orang yang mengelilingi saya di foto ini bukan orang biasa. They’re my … heroes.

Kiri - kanan : Buntel (adek), Dada (kakak), Eike (yg nulis :P), Mama

Kiri – kanan : Buntel (adek), Dada (kakak), Eike (yg nulis :P), Mama

Ibu saya menikah di usia 15, dijodohkan dengan bapak oleh salah seorang paman. Setelah menikah, bapak dan ibu langsung hengkang ke kota Makassar dan memulai hidup mereka dari 0. Ibu melahirkan anak pertama di usia 16.

Saat memasuki gerbang pernikahan, saya dirundung banyak kecemasan. Apalagi ketika harus merantau ke luar negeri bersama suami. Apa kuat saat melahirkan nanti, apa bisa memasak / mengurus rumah tanpa bantuan asisten, apa bisa mengurus anak sendiri (sementara saya dari dulu tak suka anak kecil). Padahal saya menikah di usia terbilang cukup dewasa, 27 tahun.

Hamil anak ke-2 di luar negeri, harus mengasuh anak sulung yang belum mandiri di usia 2 tahun, didera rasa mual sepanjang hari selama nyaris 20 minggu sempat membuat saya sangat putus asa. Nekat ingin pulang dan melahirkan di Jakarta saja, meninggalkan suami sendiri di Negeri Orang.

Nasihat ibu yang selalu menguatkan saya, “Dari anak pertama sampai adikmu dulu, ibu selalu melahirkan di samping Bapak. Tidak pernah pulang ke kampung. Jangan dipikir-pikir tapi dihadapi saja. Kalau tiba waktunya, kau nanti kaget sendiri, betapa mudahnya semua bisa dilewati.”

Saya kadang tak percaya, ibu benar. When it’s time, it’s time. Voila! Semua terlewati begitu saja. Melahirkan tanpa sanak saudara di negeri rantau, bahkan cuma sehari di rumah sakit sudah harus pulang dan harus segera mengurus si kecil dan kakaknya dan urusan rumah tangga lainnya.

Pengalaman ibu mengajarkan, “Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had and dealing with fears you didn’t know existed (Linda Wooten).”

Tak ada manual khusus untuk menjalani karier sebagai seorang ibu. Pengalaman dan keberanian untuk menjalani semua ketakutan yang akan lebih banyak berbicaraย .

Kalau ibu mengajarkan saya banyak hal seputar kehidupan perempuan sebagai ibu, kakak saya yang ke-4, mengajarkan tentang passion. Sejak kecil, minatnya pada dunia mode sudah terlihat jelas. Setelah lulus kuliah di Makassar, kakak saya langsung pindah ke Jakarta. Kariernya dibangun dari bawah. Gaji sangat kecil untuk hidup di ibukota sebagai seorang asisten desainer.

Saat banyak kerabat yang meremehkan hobinya yang dianggap sebagai hal yang membuang-buang uang saja. Namun, dia tetap tekun menjalani mimpinya. Hingga akhirnya kini, kakak saya menduduki posisi penting di salah satu televisi swasta nasional di divisi wardrobe sekaligus menjadi seorang freelance fashion stylist. Bahkan baru-baru ini meluncurkan brand outfitnya sendiri.

Dia memicu saya kembali menekuni hobi menulis yang sudah belasan tahun saya lupakan. Suami saya suka menggoda, “Menulis di blog dan wall FB melulu. Mana ada uangnya.” Kakak saya mencontohkan, “Passion first, money will come along”ย .

Adik perempuan saya mengajarkan hal penting lainnya. Dari kecil, prestasi akademisnya yang tak secemerlang saya dan pembawaannya sebagai ‘anak gaul’, hobi jalan-jalan dengan mejeng dengan teman-teman sebaya, sering pula mendapat cemooh. Apalagi ketika adik saya gagal menembus UMPTN 2x berturut-turut. Faktor ekonomis tak memungkinkan dia leluasa memilih kuliah di universitas swasta.

Adik saya memilih tidak peduli, bersabar dan berdamai dengan semua tekanan, “Ah, ngapain disuruh kuliah. Dikawinkan sajalah. Memang bakatnya bukan di bidang akademis.”

Dia bersungguh-sungguh menghadapi kesempatan terakhirnya di UMPTN untuk ke-3 kalinya dan tembus di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Kembang.Tak cuma itu, adik saya lulus tepat waktu dan menggenggam ijazah dengan predikat Cum Laude.

Pelajaran penting dari kisah adik saya. “Forgive others not because they deserve forgiveness but because you deserve peace.” Apa gunanya memikirkan omongan miring dari orang lain yang hanya membuat diri terpuruk dalam energi negatif. Kebesaran hatinya untuk memaafkan dan melanjutkan hidup berbuah manis, as “Success is a best form of revenge” ๐Ÿ˜‰.

Buntel, Eike, Dada (2007)

Buntel, Eike, Dada (2007)

Terlahir sebagai anak ke-5 dari 7 bersaudara, hidup bersama berjejalan selama belasan tahun dalam sebuah rumah kecil, sempat membuat saya bete, “Punya saudara banyak bikin pusing saja dan nyaris tak ada privasi.”

Tapi senyatanya, tak perlu jauh-jauh saya mencari inspirasi dari tokoh-tokoh dunia atau semacamnya. Adalah ibu dan saudara-saudara kandung sendiri yang sering menguatkan saya melewati serial-serial kehidupan yang seringnya tak luput dari hal-hal yang tak mudah ๐Ÿ™‚.

Betapa keluarga adalah salah satu anugerah terindah yang diberikan oleh Allah. Walau mereka adalah bagian dari takdir dan tak bisa kita pilih-pilih sesukanya, tapi selalu bisa kita pilah hal-hal indah yang bisa kita petik dari hubungan bersama mereka ๐Ÿ™‚.

You don’t choose your family, They’re god’s gift to you, as you are to them -Desmond Tutu-

Kita sering banget foto ber-4 hehehe (ujung kanan itu Tini, sepupu)

Kita sering banget foto ber-4 hehehe (ujung kanan itu Tini, sepupu)

9 thoughts on “God’s Gift to You

  1. Kebangetan, tulisan sekeren ini kok nggak masuk nominasi. Ish! Kirimin virus jg nih, si DELL…. ๐Ÿ˜†
    Mbak, passion ku belanja, terutama di OLS. Gimanaaaa, doonggg…? *gigit mouse* ๐Ÿ˜†

  2. saat sudah sama2 dewasa dan hidup terpisah2, mendadak keluarga jadi begitu penting ya mbak. coba dulu pas kita masih ABG… rasanya pengen kabur mulu dari rumah hehehe….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *