We are The World, We are The Children

by : Jihan Davincka

***

St Mary

Sumber : www.rte.ie (Green Flag Day at St Mary’s Primary School)

Saat mengantar dan menjemput Abil di sekolahnya yang sekarang, St. Mary Primary School (Athlone, Ireland), saya melihat jelas jika para orang tua yang menunggu di luar tidak ‘bercampur’ secara alami.

Konon, hadirnya kantor Er***** di kota Athlone membuat kota kecil ini dibanjiri para pendatang dari negara lain. Anak-anak dari para pendatang inilah yang mengisi sebagian bangku-bangku di St Mary Primary School tadi.

Yang rambut kuning sibuk berbicara dengan sesama rambut kuning :D, beberapa perempuan berjilbab yang dari logatnya terlihat jelas mereka berasal dari Saudi membentuk ‘lingkaran’ sendiri ;), tampang asia (India, Pakistan dll) juga terlihat berdiri merapat.

Di salah satu pojok saya sering melihat seorang perempuan yang sepertinya bertampang latin selalu berdiri menyendiri sambil memainkan ponselnya.

Yang paling merana emak-emak asal Indonesia yang enggak ada temennya ahahahahaha. Udahlah anak baru pula :P. Dasar tukang ngobrol, tetep aja maksa suka ikut-ikutan ngerumpi di grup-grup yang dirasa agak ‘open’.

Akhirnya saya punya temen ngobrol rutin yang berasal dari Suriname, seorang ibu keturunan India yang sudah menetap lama di Belanda. Sering juga mengobrol dengan ibu-ibu asal India yang anak-anaknya sekelas dengan Nabil, anak sulung saya.

Karena punya satu teman akrab dari Saudi, beberapa perempuan Saudi jadi sering menyapa atau minimal tersenyum kepada saya. Tapi kalau sudah asyik sesama mereka, mereka pasti berbahasa Arab, deh. Ampun maaaakkk, eike tahunya cuma sebatas, “swayya, swayya, asara, mafi mushkilah, aiwa” saja, ahahahahaha. Mending melipir :P.

Kontras dengan para orang tua di luar yang terlihat kikuk dan hanya menyapa seperlunya dengan ‘ras lain’ :P, anak-anak terlihat jauh berbeda. Kalau mereka berhamburan dari kelas, terlihat sangat akrab satu sama lain.

Anak saya sendiri belum apa-apa sudah punya ‘geng’ hihihihi. Dasar emang enggak bisa diem dari kecil :P. Nabil punya beberapa sahabat, Jerry yang selalu keren dengan jaket kulitnya (afrika), Tyrish yang rambutnya kuning menyala (I’m not sure whether he’s polish or irish), Hamzah (muslim India tepatnya dari kota Bangalore), Mustafa (yang orang tuanya asli Saudi) dan Alex ( kalau enggak salah ini anak baru pindahan dari Inggris). Saya hapal karena tiap hari kaleeee dikenalin sama Abil hihihihihihi.

Tapi kalau melihat teman saya, Clara, yang sudah menetap di Irlandia selama 5 tahun, sepertinya ada juga acara-acara ‘morning tea’ rutin yang diadakan para ibu-ibu yang tidak memilah-milah ras. Tapi kelihatan kok, kebanyakan terlihat nyaman ‘bergaul akrab’ dengan sesamanya :).

Keakraban dengan ‘bangsa lain’ hanya sebatas kesopanan saja. Kalau pun ada yang bisa saling akrab, itu termasuk langka. Bahkan di negara-negara yang katanya menjunjung HAM ini :P. Walaupun tidak mengganggu dan terasa wajar, rasa kikuk itu tidak benar-benar pudar di mana pun :).

Makanya, saya sangat senang berkenalan dengan Fatima, perempuan asal Dhammam (ibunya Mustafa). Beberapa kali saya diundang ke rumahnya, dimasakin pula nasi-nasi arab yang enak-enak.

Sungguh tak menyangka, nyaris 3 tahun di Jeddah saya tak punya sahabat penduduk asli sana. Baru beberapa minggu di Athlone, kami menjadi akrab begitu saja :). Sayang, dia dan keluarganya sudah kembali ke Dhammam for good :(. I and she were crying on her last day, when we were saying goodbye at each other while having a brunch at a certain coffee house. Miss you already, my dear Fatima :).

***

Video di bawah dan pengalaman saya tadi adalah bukti bahwa pada dasarnya, secara lahiriah kita tidak dilahirkan dengan rasa kikuk itu :). Lihat saja Nabil dan teman-temannya. Untuk anak-anak umur 5 tahun itu, warna kulit – perbedaan bahasa – agama – sama sekali tidak pernah menjadi acuan dalam berteman :).

Kita semua pun pernah kecil. Saat kecil pun, coba saja diingat-ingat, bagaimana cara kita memilih teman? Pertanyaan besarnya, mengapa setelah dewasa pemikiran-pemikiran idealis ini bisa memudar bahkan mungkin menghilang? Ulah siapakah?

Tidak percaya? Luangkan waktu menonton video yang saya share ini :).

Ah, ini mbak-nya liberal sekali pemikirannya. Abis ini jangan ada inbox aneh-aneh dengan tuduhan macam-macam ke saya, ya :P. Enak saja :D. Saya malah sangat bangga sebagai umat muslim. Saya, kok, malah curiga dengan penggalan lirik lagu Michael Jackson pada judul lagu yang saya jadikan judul tulisan ini.

Jangan-jangan dia terinspirasi dengan petikan dari ayat suci alquran di bawah ini ๐Ÿ˜€ …

“Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah
menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang
perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku, AGAR KAMU SALING MENGENAL.
Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi
Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat ayat 13)

Penggalan ayat suci alquran yang sudah turun ratusan tahun sebelum Jacko, salah satu legenda musik dunia, membuai semesta dengan salah satu gubahan terindahnya, “We are The World.”

We can’t go on pretending day by day
That someone, somehow will soon make a change
We are all a part of Gods great big family
And the truth, you know,
Love is all we need

***

Hari ini, hari ke-8 di bulan suci ramadan (hari ke-9 buat sebagian yang lain). Berarti sudah sekitar satu minggu kita menjalani ibadah puasa di tahun ini. Alhamdulillah.

Selain memanfaatkan 30 hari istimewa untuk ‘narsis’ dan ‘carper’ kepada Allah melalui amalan-amalan aqidah, sudah sejauh mana kita menalaah masalah muamalah kita terhadap orang lain? :).

Selamat melanjutkan ibadah puasa, saudara-saudara muslimku :). Tetap semangat ^_^.

***

Keterangan video ada di sini –> http://www.dailydot.com/lol/kids-react-cheerios-commercial-race/

8 thoughts on “We are The World, We are The Children

  1. Satu yg aku suka dr film Barney adalah anak2nya berasal dr berbagai ras, dan ada yg down syndrome. Poin yg bagus kan? Ya…sementara kesampingkan image bhw amrik menjadikan dirinya pusat dunia dr berbagai ras.

  2. Saya udah lama jadi silent reader nya Mbak Jihan. Suka ngakak sendiri meski dalam hati. Kadang karena terbawa oleh cerita lucunya. Tapi tidak jarang, melihat emoticon kaya gini ๐Ÿ˜€ saja sudah sukses buat ketawa. Meski dalam hati (lagi), hihihi
    Saya merasa cocok dengan orang yang tidak pelit buat menebar emoticon ngakak nya di berbagai paragraf tulisannya. *Jempol*
    Btw, semoga segera ketemu banyak teman yang nyaman buat diajak ngerumpi ya, mbak ๐Ÿ˜€ *eh.
    _Peace_

    • Halo Mbak Sofi, iya nih, memang hobinya ketawa ketiwi :P. Iyap, selain hobi ngakak seneng ngerumpi jugak <– bukan contoh yang baik :P. Thanks for reading ๐Ÿ™‚

  3. Jangankn d luar di negri sendr sj seringkl kikuk dg yg beda suku ato agma -ini mah saya hehe- seringkl qt hrs bljr dr ank2 qt..salam kenal mba..

    • Kalau yang beda agama saya sih udah jarang, Mbak. Waktu kecil malah iya hihihi. Tapi kalau yang beda suku bener juga, tuh. Suka kikuk masalah bahasa terutama. Takut nyinggung kalau salah ngomong :P. Iya nih, sama-sama belajar dari anak-anak :D. Salam kenal juga ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *