If The Music Sings a Thousand Memories

Gambar : purwoudiutomo.com

Gambar : purwoudiutomo.com

Kalau anda lahir di tahun 80-an atau sebelumnya, pasti respons anda akan sama seperti saya ketika melihat gambar di samping. Cekikikan mengingat betapa jadulnya dunia musik di masa kecil dan abege kita :D.

Btw, apa ya musik yang saya anggap asyik?

Jujur saja, soal musik, selera saya tidak stabil. Saya bahkan tidak percaya bahwa kaset pertama yang saya beli dulu, ketika usia saya masih 10 tahun, adalah album “Isabella.” Album yang melambungkan grup musik asal Negeri Jiran di tanah air, Search. My oh my :P. Seminggu penuh saya merengek pada ibu. Tiap ibu pulang dari kios, saya merengek, “Ada mi kasetnya?” (Sudah ada kasetnya?)

***

Mengingat-ingat apa kira-kira musik asyik dari dulu hingga kini membuat saya sadar lagi, betapa banyaknya saya bersaudara kandung. Hahahaha. Maklumlah sudah belasan tahunΒ  saya tak pernah berkumpul bersama mereka lagi.

Semua kakak saya laki-laki. Semuanya penggemar musik dan tidak segan-segan membelanjakan uang saku untuk mengoleksi kaset dari musisi favorit mereka. Adik saya yang perempuan juga sama. Kalau si bungsu yang usianya jauh terpaut dengan kami semua, sudah berada di era MP3 ketika memasuki masa remajanya.

"White Lion" (Gambar : www.duck.fm)

“White Lion” (Gambar : www.duck.fm)

Kakak yang pertama usianya terpaut 12 tahun dari saya. Karena radionya cuma 1, kakak yang pertama ini yang ‘berkuasa’ atas satu-satunya radio yang ada di rumah. Sejak usia 6 tahun, saya sudah berkenalan dengan lagu rock. Sampai eneg rasanya mendengar lagu “Preman” (dipopulerkan oleh Ikang Fawzi) yang diputar berulang-ulang dari pagi sampai malam. Di usia sekecil itu saya juga sudah tahu tentang grup-grup beraliran rock asal Negeri Paman Sam. Misalnya saja White Lion dengan salah satu lagu andalannya, When The Children Cry.”

Saat kakak pertama hengkang ke Surabaya melanjutkan kuliah ke sana, tirani senioritas mulai ditinggalkan dalam urusan memutar kaset :P. Semuanya boleh menikmati radio secara bergantian.

Kakak ke-2 memperkenalkan saya pada kompetisi menyanyi nasional, Festival Lagu Favorit Indonesia. Di ajang ini, tepatnya yang tahun 1987, jadi tahu, deh, sama yang namanya grup vokal Elfa’s Singers. Kakak saya ini juga yang rajin membeli dan memutar koleksi lagu-dari dari mendiang Chrisye, grup musik legendaris Queen hingga peniup saxaphone, Kenny G. Tidak ketinggalan kaset-kaset dari KLa Project. Saya suka semuanya!

Saya juga ingat betul, dia suka membawa pulang kaset-kaset yang isinya kompilasi dari lagu-lagu barat yang tengah populer. Cuma ingat 2, Mega Hits dan Hit Bank. Ini ide luar biasa kalau dipikir-pikir. Sekali merengkuh dayung, 11-12 lagu hits langsung bisa didengarkan sekaligus. Hehehehe.

Dibanding yang lain, selera musik kakak ini yang jangkauannya paling luas. Saya jelas terpengaruh. Karena masih kecil jadinya ya ngikut saja. Termasuk ketika dia tergila-gila pada Dewa 19 dan Boyz II Men, grup musik yang menurut saya adalah pelantun lagu-lagu cinta terbaik sepanjang masa :).

Kompilasi musik yang diperkenalkan oleh kakak no.2 :D (Sumber gambar : id.wikipedia.org dan www.last.fm)

Kompilasi musik yang diperkenalkan oleh kakak no.2 πŸ˜€ (Sumber gambar : id.wikipedia.org dan www.last.fm)

Kakak saya yang nomor 3 yang paling beda sendiri. Musisi favoritnya the one and only … Iwan Fals! Coba perhatikan lirik-lirik lagu beliau. Komplit. Mulai dari yang jenaka, misalnya di lagu “Pesawat Tempurku“, atau yang ‘idealis’ di lagu “Bongkar” hingga yang romantis di lagu “Yang Terlupakan.” Ketiga lagu tersebut adalah lagu-lagu kesayangan saya yang pernah dipopulerkan oleh legenda musik Indonesia ini.

Kompilasi gambar dari id.wikipedia.org

Kompilasi gambar dari id.wikipedia.org

Ketika salah satu finalis X-Factor Indonesia, Isa Raja, membawakan lagu “Yang Terlupakan” (lagu terbaik dari Iwan Fals versi saya) di ajang tersebut, saya seperti terhipnotis. Tidak menyangka, belasan tahun berlalu, ada yang bisa menyanyikan lagu indah ini sepiawai penyanyi aslinya :).

Kakak yang nomor 4, selera musiknya memang sedikit nyeleneh dibandingkan pria pada umumnya. Koleksinya didominasi oleh para diva Indonesia seperti : Krisdayanti, Titi DJ, Ruth Shahanaya, Vina Panduwinata juga Rossa. Di lemarinya juga berjajar kaset-kaset penyanyi pria sekelas Utha Likumahua, Harvey Malaiholo dan Yana Julio. Saya malah ikut-ikutan suka, tuh. Kalau memutar lagu-lagu dari AB Three dan Kahitna, saya selalu ikut bersenandung bersamanya :D.

Kompilasi artis favorit dari kakak no.4 (gambar dikumpulkan dari id.wikipedia.org)

Kompilasi artis favorit dari kakak no.4 (gambar dikumpulkan dari id.wikipedia.org)

Adik perempuan membawa aliran musik baru. Model hip hop dan RnB favoritnya. Dari dia, saya jadi tahu grup musik TLC dan Destiny’s Child dan ikut-ikutan ngefans seperti biasa :P. Dia juga yang membawa kaset Iwa K pertama kali ke rumah biarpun belakangan didengarkan beramai-ramai.

Waktu dia menawarkan saya untuk saweran membeliΒ  kaset grup musik favoritnya, Oasis, saya iya-iya saja. Tidak rugi. Lagunya memang enak-enak, meskipun sekarang saya ingatnya cuma “Wonderwall” saja, hehehe.

Saya memang satu-satunya yang paling malas membeli kaset. Kalau mereka punya selera musik berbeda-beda, sayalah yang labil sendiri. Karena buat saya, semuanya seru.

Adik bungsu si no.7 keluaran era milenium. Bisa sakit kepala emak-emak seperti saya menikmati koleksi MP3 nya. Dari band tenar ST12 sampai band-band baru yang sudah tidak sanggup saya ikuti perkembangannya.

***

Belakangan, ketika sudah tinggal terpisah-pisah, selera musik saya seolah berhenti di tahun 90 an hingga awal-awal tahun 2000 an. Setiap mendengar lagu-lagu dari tahun-tahun tersebut yang kini mudah didapatkan dari berbagai situs online, yang terbayang bukan penyanyi atau liriknya. Liriknya sih sebagian besar masih ada dalam kepala, lho.Tapi yang teringat adalah masa-masa kecil dan remaja bersama saudara-saudara yang belasan tahun dihabiskan di kota Makassar.

Berebutan memegang kertas sampul kaset yang biasanya berisi lirik-lirik lagu sang penyanyi. Berpandangan dengan wajah pucat kalau kami memutar kaset-kaset si empunya yang sedang tidak ada di rumah dan tiba-tiba kasetnya mengeluarkan suara aneh-aneh. Begitu dikeluarkan, pita kaset sudah terburai. Buru-buru mencari pensil dan saling menyalahkan. Ahahahahha.

Jadi, buat saya musik yang asyik itu tidak tergantung genre, penyanyi atau waktu. Tapi tergantung seberapa sanggup musiknya menguraikan kenangan-kenangan indah bersama orang-orang terkasih :).

If they said, a picture paints a thousand words, then we can also conclude that… a music can sing a thousand memories :). Here, there and everywhere :).

***

 

27 thoughts on “If The Music Sings a Thousand Memories

  1. Gambar pertama asli bikin ngakak… generasi dulu yg kini masih hidup di jaman mp3 ini pasti tahulah jawabannya.
    Waktu masih SMP-SMA saya sudah punya profesi nerima order copy (menggandakan) kaset, modalnya punya tape compo double cassete, dan kaset kosong mulai dari C-30, C-60, sampai C-90.

    • Ahahhahahahahaha, saya punya banyak banget yang C-60, Pak :P. Makanya malas beli kaset-kaset penyanyi tertentu. Soalnya kadang suka sama beberapa lagu saja, tidak semuanya. Ketambahan lagi kakak2 dan adik saya banyak dan semuanya doyan beli kaset hihhihi.

      • Hehehe… dulu waktu masih SMP-SMA saya juga belum paham kalo itu disebut pembajakan. Tidak berpikir ke arah sana (pembajakan) karena industri menyediakan medianya, contohnya toko kaset menjual kaset kosong, adanya teknologi double cassette. Sebenarnya juga tak jauh beda kondisinya dg sekarang, adanya teknologi media pemutar MP3, dan MP3 banyak bertebaran di internet. Yang pada akhirnya dibutuhkan kreatifitas musisinya, misalnya menyasar pasar merchandize, tour, dll.

  2. Sewaktu SD aku sering dengar lagu Chrisye ‘Selamat jalan kekasih’ dr kaset kakak. belakangan baru ngeri kaset itu dibeli kakak saya pas lulus SMA mau pisahan sama pacarnya hehe

    Kalo lagu kebangsaanku sih…Bahasa Kalbu Titie DJ

    • Kalau Titi DJ itu aku paling suka “Bintang-bintang”, Mbak :). Dulu mah kasetnya lengkap. Kalau kakak no.4 koleksi kasetnya masih rapi, tuh. Malah dia saking nge-fansnya sama diva-diva baheula itu, zaman CD pun dia tetep beli komplit padahal isinya sama dengan versi kaset :D.

    • Foto yang mana? AB Three? :D. Video klip lagu “Kerinduan” di sampul kaset itu yang mempopulerkan payung-payung transparan dan baju warna warni pas SMP dulu :D.

  3. Aku lahir thn 79 *ngaku* πŸ˜†
    Dan nggak tahu knp, selera musikku nggak jauh2 dr kakak Mbak Jihan yg pertama itu. My fav? Van Halen, yang Jump. Trus lagu kebangsaan, everything i do-nya Bryan Adams.
    Oh ya, kalo udh denger lagu Jump, bawaanku jejingkrakan sendiri. Kata temen2, aku ini contoh nyata penampilan bisa menipu! Haha…

    • Ha? Masa sih? Kelihatannya ‘baik-baik’ begitu :P. Tapi kan kalau nge-fans sama Van Halen enggak berarti ‘tidak baik’ ya hihihihi. Dari Van halen cuma ingat 1 lagi, “Can’t Stop Loving You.”

  4. Baca tulisan mbak Jihan, jadi cengar cengir sendiri. Apalagi pas liat foto yang pertama. Kaset dan pensil.hihihi….dulu, saya lebih suka pake pena. Pena kan bentuk permukaannya ada sudut-sudutnya gitu. Tinggal pilih pena yang pas sama lubang kaset, pegang buntut pena-nya trus diputer-puter ntu pena, kaya koboi muter-muter tali di udara pas mau nangkep musuh *haduh, sulit mendeskripsikannya dengan kata-kata.hehe…
    Dan 11 12 nih sama Pak Iwan. Tape untuk kaset dobel beserta kaset C60 & C90. Suka bikin album kompilasi sendiri. Minjemin kaset temen buat dibajak lagu-lagu yang saya suka aja πŸ˜€
    Kaset pertama yang saya minta-nya ampe ngerengek ke ortu waktu SD: album pertama Hanson dengan lagunya yang hits saat itu: “Mmm-Bop” πŸ˜€
    Ur writing recalling these tickling memories πŸ™‚

  5. hahahahaa memang musik itu “sesuatu” apa yang tersimpan didalamnya tergantung orang yang mendengarkannya..

    dan kaget juga klo ternyata salah satu lagu yang saya senangi “Fumiya Fuji – True Love” itu ternyata lagu Sountrack dari film jadul masa kakak saya masih remaja dulu… saya pikir itu lagu masih baru… hahahahaha

  6. Salam kenal mba, ketawa ketiwi baca postingan ini. aku kelahiran 80an akhir, tp dr kecil udah dikenalin ama kaset dan senjata utamanya, pensil.
    Kaset pertamaku “Si Ular Putih” dari serial “White Snake Legend” yang adegannya banyak bicara “suamiku..istriku” hihihi.

    Nice post by the way.

  7. jadi ingat dulu waktu sering beli kaset kosong biar murah (jaman dulu belum tren jiplak menjiplak kaya MP3).. trus mantengin siaran radio favorit sambil siap2 ngerekam lagu2 yang lagi hits…kadang2 pas lagi ngerekam ditengah siaran masuk tuh suara penyiarnya..kadang lupa juga nyetopnya jadi nyampur ama lagu lain….begitu full kasetnya dan disetel eh gado2 dah hasilnya …xixixixi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *