[Cerpen Kartini] Yang Kumau

Cerpen Kartini , Oleh : Jihan Davincka

***

yang kumau Kartini

Jam sebelas lebih sepuluh menit. Masih dua jam lagi pesawatnya mendarat.
Aku tak bisa melupakan peristiwa tiga bulan lalu. Saat wajahnya merekah penuh kebahagiaan, tak henti-hentinya berujar, “Manda, ini betul-betul keputusan yang tepat. Terima kasih, Nda.”

Aku tak melepaskan genggaman tanganku sejak detik aku duduk di sampingnya, “Doakan selalu yang terbaik ya, Pa.”

Wajah berseri yang tengah terbaring di sebuah ranjang rumah sakit mengangguk-angguk dengan mata berbinar. Pipiku memanas. Dua butir airmata meluncur cepat tak tertahan. Kuabaikan segala kerisauan yang menghantui beberapa minggu terakhir. Apapun untukmu, Papa.

***

Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Suasana masih ramai. Beberapa orang yang ikut duduk tak jauh dariku, tampak mengipas-ngipaskan tangan tak sabar. Baru terasa udara yang gerah ini. Aku mengusap perlahan keningku yang basah dengan selembar tisu.

Kulirik jam tangan. Setengah dua belas. Dua puluh menit termenung rasanya bagai berjam-jam. Kusandarkan punggung ke pundak kursi.

Pikiran kembali melayang. Kali ini jauh ke belakang. Terbang mundur ke saat aku berdiri terpaku menghadap sebuah meja. Sebuah kue tar besar dengan angka delapan diletakkan tepat di hadapanku. Semua orang bersorak tapi aku malah tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.

Papa berbicara sesuatu kepada orang-orang, aku tak menyimak. Yang kuingat, dia menuntunku masuk ke dalam kamar dan memelukku di pangkuannya. “Manda kangen Mama?”

Aku mengangguk perlahan sambil terus menunduk. Betul sekali. Saat itu adalah ulang tahun pertamaku dimana hanya ada Papa yang menemaniku berdiri di depan kue ulang tahun.

Papa membelai rambutku. “Biarpun anak perempuan, Manda jangan sering menangis.”

“Manda sedih, Papa.”

“Iya, tidak apa-apa. Tapi tidak harus menangis, kan? Kasihan teman-teman sudah datang. Masa melihat Manda terus-terusan menangis?”

Aku menjawab sambil terisak, “Manda enggak bisa berhenti.”

“Ingat saja kado-kado yang dibawa mereka. Kalau nangis terus, kadonya diambil lagi, lho.”

Ucapan Papa barusan memunculkan senyumku seketika. Bertahun-tahun setelahnya hanya selalu ada Papa yang setia bertepuk tangan bersamaku di hari bahagiaku. Tak pernah ada pengganti Mama.

Aku terbiasa menceritakan apa pun kepadanya. Papa selalu mendengarkan dan selalu punya solusi atas kegelisahanku.

Tapi pernah sekali, ketika usiaku belum genap 12 tahun, aku berbisik takut-takut kepadanya, “Papa, aku sakit. Ada noda darah di pakaian dalamku.”

Papa nampak bingung sebentar. Kemudian terlihat tegang, meninggalkanku sendiri sambil menepuk jidatnya. Aku mendengarnya berbicara di telepon dengan suara panik. Sejam kemudian Tante Heti, adik Mama, sudah tiba di ruang tamu.

Papa berusaha tenang saat berkata kepadaku, “Manda, ceritakan saja soal yang tadi ke Tante Heti. Manda tidak sakit, kok.

Senyum-senyum sendiri mengingat peristiwa yang kini menurutku cukup lucu itu. Sejak saat itu, Papa mengajariku untuk berbelanja pakaian sendiri.

Waktu SMP aku bangga. Papa sudah membiarkanku kemana-mana sendiri. Tapi aku tidak boleh keluar tanpa ditemani malam-malam. Di bangku SMA, Papa membolehkan aku ke luar kota bersama teman-temanku. Tak heran ketika kuliah, Papa membebaskanku untuk memilih perguruan tinggi di kota lain.

Pertama kali terpisah darinya, aku sangat sedih. Bertahun-tahun selalu tinggal bersama Papa. Aku meneleponnya sambil sesenggukan di malam kedua aku tinggal di rumah kos.

Papa tertawa di ujung sana, “Kamu kan sudah sering ke luar kota ninggalin Papa.”

“Itu kan cuma beberapa hari, Pa. Ini beda. Aku bisa berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan tidak ketemu Papa. Tidak mungkin aku pulang tiap bulan, kan?”

“Selalu ada pengalaman pertama untuk hal apa pun, Nda. Masa masalah kecil begini kamu mendadak cengeng?”

Ucapan Papa tidak menghapuskan rasa gelisahku begitu saja. Tapi aku membenarkan ucapannya. Hingga akhirnya kami berdua kembali berdiri bersama dan berpose di depan kamera dengan sebuah toga melingkar di kepalaku.

Aku beruntung. Belum genap sebulan menggenggam ijazah, sebuah perusahaan besar menawariku pekerjaan. Pekerjaan impian yang menjanjikan penghasilan yang tidak sedikit dan kesempatan untuk menginjakkan kaki di berbagai tempat. Aku selalu suka bertualang ke tempat-tempat baru.

Karierku menanjak cepat. Aku begitu serius, ambisius dan sangat menikmati pekerjaanku. Tepat di usia ke-28, aku mendapatkan promosi sebagai senior manager dari konsultan tempatku bekerja.

Aku merayakannya dengan makan siang di kafe mewah bersama teman-teman. Sebagian besar sahabat perempuan mengeluh tentang orang tua mereka yang sudah mulai meributkan masalah pasangan. Mereka rata-rata teman kerjaku di kantor yang sama. Jam kantor padat dan jadwal traveling yang rutin tak menyempatkan sebagian besar kami memikirkan secara serius masalah ini.

Aku bersyukur Papa tidak pernah mendesakku soal pasangan. Paling sesekali menggodaku, “Di Facebook, foto kamu yang baru dengan siapa, tuh? Ganteng juga. Kenalin ke Papa, dong.”

Makin lama makin sering kami berjauhan. Jarak terbentang tapi aku tak pernah merasa jauh darinya. Media sosial menjadi tempat komunikasi utamaku dengan Papa. Aku bangga padanya. Di usia yang tidak muda lagi, Papa tidak pernah risih bergaul di media sosial.

Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah lagi berandai-andai tentang Mama yang kuharapkan diberi usia lebih panjang bersama kami. Dengan Papa di sampingku, aku begitu percaya diri dan merasa sangat cukup.

Lalu, terjadilah percakapan yang tidak biasa di malam itu. Aku baru saja tiba dari bandara setelah penerbangan yang melelahkan dari Negeri Paman Sam, tempat klien baruku. Papa menungguku di ruang tamu. Hari sudah larut, tidak biasanya Papa masih terjaga. Wajahnya pucat. Aku tahu dari emailnya beberapa hari yang lalu tentang kondisinya yang tidak sehat.

“Aku kan bawa kunci, Pa. Papa tidak istirahat?” Aku duduk di sampingnya. Dari dekat, aku melihat wajahnya yang benar-benar kuyu. Aku mulai khawatir.

“Kamu tidak suka Papa tungguin?”

Aku menggeleng sambil tersenyum. “Ada-ada saja, deh. Papa sudah ke dokter?”

Papa diam agak lama. Lalu menatapku dengan pandangan serius, “Jangan khawatirkan Papa. Lihatlah dirimu. Kapan kau memikirkan untuk menikah?”

Aku tidak siap dengan pertanyaan itu. Aku mengalihkan pertanyaannya, “Dokter bilang apa, Pa?”

“Manda, umurmu tak muda lagi. 30 tahun. Papa tidak…”

Aku memotong ucapannya, “Kenapa tiba-tiba meributkan soal ini, Pa?”

“Baiklah. Besok pagi kita bicara.” Papa berdiri, meninggalkanku.

“Aku antar Papa ke rumah sakit besok, ya.”

Tak ada jawaban. Hanya derit pelan pintu kamarnya yang menutup percakapan kami malam itu.

***

Aku menyesali diriku yang begitu larut dalam kesibukan sendiri. Tak menyadari kesehatan Papa mulai menurun. Aku terisak-isak memandangi hasil tes kesehatannya yang diserahkan pihak rumah sakit padaku.

“Papa, aku akan minta cuti. Aku mau merawat Papa di rumah.”

“Waktu Papa mungkin tak lama lagi. Kalau tak ada Papa, siapa yang akan menjagamu?”

“Aku bukan anak kecil, Pa. Giliranku menjagia Papa.” Aku tersenyum dan merapatkan dudukku. Memeluknya erat.

Papa melingkarkan tangannya di bahuku. “Begitu sulitkah permintaan Papa, Nda?”

Tak tahu harus menjawab apa, aku memilih diam. Aku tak berani mengangkat wajahku untuk menyuarakan isi hatiku di saat kondisi Papa seperti ini.

Tapi seminggu kemudian, Papa mengajakku ke rumah Tante Heti. Aku kaget ketika di sana sudah ada seorang laki-laki. Tanpa canggung, Papa mengenalkannya padaku. “Manda, ini Giring.”

Aku menyambut uluran tangan pria berkacamata itu. Wajahnya sama sekali tidak jelek. Badannya tegap, tersenyum penuh percaya diri saat menggenggam tanganku. Tapi tak ada getaran apa pun untuknya.

Papa tidak mempedulikan aku yang masih berdiri kaku kebingungan, “Giring ini seorang dokter. Usianya lebih tua dua tahun darimu, Nda.”

Sekaget dan semarah apa pun aku, aku tetap berusaha sopan dan mengobrol santun dengan Giring. Ini bukan salahnya. Tiba di rumah kembali setelah dua jam yang menyiksa di rumah Tante Heti, aku tak bisa menahan diriku lagi.

“Apa-apaan ini, Pa?”

Papa menjelaskan panjang lebar, “Sudah saatnya, Nda. Papa tidak akan memaksa. Tapi kau cobalah dulu akrab dengannya. Papa kenal anak itu dari kecil. Orangtuanya, baik ibu dan ayahnya, kolega Papa di kampus.”

“Tidak memaksa? Papa bahkan tidak memberiku kesempatan untuk…”

Papa mulai tak sabar, “Kenapa kau ini? Sesulit itukah sekadar mengobrol dengannya?”

Aku kaget. Papa tidak pernah seperti ini. Papa selalu mendengarkan aku dan membuka ruang diskusi. Aku tak berdaya. Kuceritakan saja pada Tante Heti, yang kadang-kadang kuanggap sebagai pengganti Mama.

Ucapannya mengalir bijak, “Papamu Cuma khawatir. Sudah tugas orang tua kan mengantarkan putrinya ke gerbang pernikahan.”

“Mengantar, bukan memaksa,” keluhku.

“Mungkin papamu merasa waktunya tak akan lama lagi. Mengertilah. Dari dulu pusat kehidupannya Cuma kamu. Sekarang pun, ini pasti untuk kebaikanmu juga.”
Ucapan Tante Heti tak juga bisa meruntuhkan kegundahanku.

Biarpun aku mengambil cuti dan selama berhari-hari kami diam bersama dalam rumah, hubunganku dengan Papa makin dingin. Tapi tak ada perdebatan sengit. Hari ke hari aku makin resah, tak terbiasa memendam amarah seperti ini. Rasa kasihanku pada kondisinya membuatku mau saja menjalin hubungan dengan Giring.

Suatu hari Papa berbicara lembut kepadaku, “Manda, keinginan Papa dari dulu cuma ingin kau bahagia.”

” Aku bahagia, Pa. Satu-satunya yang bisa merusaknya adalah kecemasanku akan kondisi Papa.” Mataku berkaca-kaca.

Papa menggeleng pelan, “Bukan itu.”

“Aku bisa menjaga Papa. Tanpa Giring sekali pun.”

“Kau belum mengerti juga.” Lalu, Papa terdiam lama sekali. Ternyata itu pembicaraan terakhir kami sebelum akhirnya beberapa jam kemudian, kondisi Papa menurun drastis. Aku melarikannya ke rumah sakit.

Dalam cemasku, aku memeluknya kuat-kuat dan membisikkan, “Papa, baiklah. Aku akan menikah dengan Giring.”

Itu kejadian tiga bulan lalu. Tuhan mendengarkan doaku. Hanya sehari Papa di rumah sakit, dokter sudah membolehkannya pulang.

Saat kondisinya makin membaik, Papa memutuskan untuk ke luar kota dalam rangka penelitian dan tugas dari kampus. Aku menentang keras. Tapi Papa sungguh keras kepala akhir-akhir ini.

Berminggu-minggu Papa pergi dan hari ini akan pulang. Aku sudah bilang aku akan menjemputnya.

***

Senyumnya melebar. Siapa pun bisa menebak betapa bahagianya wajah itu. Ya Tuhan, bagaimana harus kurangkai kata di hadapannya.

Bagaimana harus kuceritakan bila tak akan ada resepsi yang ditunggu-tunggunya. Tak akan ada penghulu yang menghampiri rumah kami di hari yang telah ditetapkan itu.

Seperti apa harus kuungkapkan ketika minggu lalu aku muncul di pintu rumah Giring. Dengan segenap kekuatan yang aku punya, kujelaskan pada orang tuanya mengenai niatku untuk membatalkan pernikahan kami. Nada suaraku mungkin layu tapi aku sungguh tak ragu.

Langkah lelaki tua itu makin cepat ke arahku. Papa, aku tak ada niat menyakiti. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa Papa mendidikku untuk berani. Tegas mengambil keputusan yang kurasa terbaik untukku. Tapi tepatkah untuk Papa?

“Cantik sekali calon pengantin Papa.” Dia memelukku erat-erat. Suaranya serak, walaupun tak terlihat, aku bisa merasakan matanya yang basah.

“Apa kabar Papa?” Kata-kataku bergetar, hatiku gentar.

Oh Tuhan, dari mana aku harus memulainya.

***

Kami tiba di rumah. Papa bersenandung kecil dari dalam kamarnya. Aku mengintip dari balik pintu kamarnya yang setengah terbuka. Papa sedang membongkar kopernya. Entah apa yang dicarinya. Aku memutuskan untuk menunggu di meja makan saja.

“Nah, ini dia kejutan buat calon pengantin Papa.” Tak lama, Papa menghampiriku yang sedang duduk tegang menantinya.

Aku menjawab lemah, “Makan dulu yuk, Pa.”

Papa duduk di sebelahku dengan antusias, “Lihat ini, Nda.”

Aku terkejut melihat sebuah kotak perhiasan diletakkan di hadapanku. Papa membukanya dengan tidak sabar. “Lihat ini. Papa sempat mencarikanmu sebuah cincin. Ini mirip sekali dengan punya Mama. Tadinya Papa tidak berharap…”

“Sudahlah Papa…” Airmataku meluncur tak tertahan.

Papa tersenyum, “Tidak apa-apa, Nda. Papa memang sudah meniatkan…”

“Aku sudah membatalkan semuanya.” Entah keberanian itu datang dari mana, kata-kata itu meluncur begitu saja.

Cincin yang dipegang Papa terlepas dan jatuh ke lantai. Papa menatapku tak percaya. Suaranya terbata-bata, “A…apa maksudnya, Nda?”

Tak ada gunanya kusembunyikan lagi. Lebih baik kuceritakan semuanya. “Minggu lalu, aku ke rumah Giring. Bertemu dengan kedua orang tuanya.”

Aku menunggu reaksinya. Papa malah bangkit dari duduknya. Cincin di tangannya terjatuh begitu saja. Papa berjalan gontai ke arah kamarnya. Aku membiarkannya pergi dan tetap duduk di tempatku. Setelah bayangannya menghilang, aku memungut cincin tadi. Menempelkannya di pipiku, membiarkannya ikut basah.

***

Berhari-hari Papa mendiamkanku. Ini sungguh menyiksa. Perasaan bersalah mulai menyusup. Apa yang telah kulakukan? Benar kata Tante Heti, lebih dari 20 tahun, aku selalu menjadi pusat kehidupannya. Keistimewaannya bahkan tidak membuatku meratap merindukan sosok Mama.

Aku pasti tak mungkin bisa menyamai rasa cintanya padaku. Tapi aku sungguh tak mampu membohongi diriku bahwa permintaannya terlalu besar. Aku bukannya tak ingin menikah. Aku hanya ingin melakukannya saat aku siap. Bukan karena alibi sosial apa pun.

Tak kusangka, setelah hampir seminggu Papa bersikap seakan-akan aku tidak ada, sore ini Papa menghampiriku. Duduk di sofa yang sama, tepat di sampingku.

“Ini semua salah Papa,” ujarnya perlahan dengan tatapan lembut.

“Maafkan aku, Papa. Maksudku bukan…”

Papa langsung memotong, “Papa membiarkanmu terlalu lama sendiri. Papa teledor. Lupa kalau waktu terus berjalan, tidak selamanya Papa akan bisa…”

Kali ini aku yang memotong ucapannya, “Papa beda dengan yang lain. Aku bangga.”

Papa tersenyum tak bersuara. Lalu, menoleh dan berkata, “Papa yang bangga padamu. Kau berani sekali, Nda.”

Aku tidak tahan. Aku langsung memelukknya kuat-kuat. “Kalau yang Papa tunggu adalah melihatku bahagia. Tidak perlu menunggu lagi. Aku bahagia, Pa. Dari dulu, aku selalu bahagia.”

Papa menepuk pundakku dengan lembut.

“Oh ya, soal Giring…” Aku melepaskan tanganku dari bahunya. Menatapnya takut-takut.

“Sudahlah. Ini tentangmu, bukan tentang Giring.” Lagi-lagi dijawab dengan tersenyum.

Aku lega dan tiba-tiba teringat sesuatu, “Sebentar, Pa.”

Aku setengah berlari menuju ke kamarku. Mengambil sesuatu dari kantong tas dan kembali duduk di samping Papa.

“Ini.” Aku menunjukkan cincin yang tempo hari ditunjukkannya padaku.

Papa ingin meraihnya tapi kutarik lagi. “Aku ingin memilikinya. Apa boleh, Pa?”

“Papa berharap bisa melihatmu memakainya di hari bahagiamu nanti.”

Aku memakai cincin itu di jari manis tangan kananku. “Aku sudah bilang, Pa. papa tidak perlu menunggu untuk melihatku bahagia.”

Kali ini Papa yang meraih aku ke dalam pelukannya.

Aku berbisik padanya, “Aku tidak bohong. Aku benar-benar bahagia.”

Aku memang tidak bohong. Aku pikir ketika aku menyaksikan pemakaman Mama, kebahagiaan tidak akan pernha menjadi milikku lagi. Tapi sejak Papa meyakinkan aku untuk memasang senyum terbaikku sebelum meniup lilin ulang tahunku yang pertama tanpa Mama, aku tahu aku akan tetap bahagia. Bahkan Papa melakukan hal yang lebih jauh. Sejak kecil mengajariku bahwa kebahagiaanku tidak pernah tergantung pada keberadaan orang lain.

Bagaimana mungkin aku tidak menyayanginya sebesar yang aku mampu?

***

Baca juga : [Cerpen Femina] Namanya Aryana

Baca lagi : [Cerpen Femina] Tiga Rahasia

Note :

8 Mei kemarin tepat 21 tahun meninggalnya almarhum bapak saya. Kebetulan sekali, ya, cerpennya dimuat di edisi awal mei di Majalah Kartini kemarin hehehe.
As old as she was, she still missed her daddy sometimes . I always did anyway. Drama, drama, drama ahahahahahahha .

30 thoughts on “[Cerpen Kartini] Yang Kumau

  1. Tumpah ruah air matakuuuuuu…… kebetulan aku sudah membaca duluan di majalah mbak jihan, dan ternyata gabung juga disini…… speechless…
    So good…very good….

  2. Kak jihan keren2 cerita nya,,
    Kak pngen nanya klau ngrim nya berupa file d lampirkan atw gmana?
    Di isi nya pke kata2 kyak kata pngantar tak,?
    Makash kakak 😉

  3. Ga bisa nahan jari buat ngetik komentar buat bilang Cerpennya keren banget. Jempol. Btw mba bikin cerita kisah nyata ya? Dijawab yamba plz

  4. Cerpennya benar-benar menyentuh hati. Sampai mau nangis bacanya. Kayak kisah nyata saja. Oke banget deh, mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *