Biografi Bung Hatta, Sebuah Buku yang Tak Akan Pernah Tamat Dibaca

by : Jihan Davincka

***

Sebuah tulisan Bung Hatta di tahun 1962, hanya perlu dicetak ulang untuk menggambarkan situasi negeri ini sekarang :

“Dimana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita. Sementara nilai uang makin merosot.

Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik. Pelaksanaan ekonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah. Tak banyak yang puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai.”

Kita nyaris tak perlu mengubah satu kata pun.

***

Bung Hatta cukup kontras bila dibandingkan dengan Bung Karno. Sukarno terkenal sebagai orator ulung, penampilannya yang dandy, kisah cinta dengan berbagai wanita, keberaniannya yang menghentak dan perjalanan hidupnya yang bagaikan perputaran matahari. Terbit, tenggelam namun tak berhenti bersinar. Tulisan ini adalah sedikit biografi Bung Hatta.

Gaya bicara Bung Hatta membosankan. Selaras dengan raut wajahnya yang dingin dan kaku. Soal kemewahan, beliau bukan jagoannya. Dengan tampuk pimpinan yang pernah dipegangnya, memiliki sepatu merek ‘Bally’ adalah hal paling mewah yang hanya mampu dimimpikan … hingga akhir hayatnya. Hanya sepasang sepatu dengan merek tergolong mewah saat itu. Apa di zaman Bung Hatta tidak ada pejabat-pejabat bermobil dan hidup mewah? .

Tapi jangan salah. Bung Hatta tidak lahir dari keluarga sederhana. Dalam darahnya mengalir dua perpaduan keluarga terkemuka : pemuka agama dan saudagar. Beliau adalah keturunan dari garis terpandang di kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Di tahun 1947, 2 tahun setelah menjadi orang nomor 2 di Indonesia, beliau membuat seorang sais bendi murka di kampung halamannya. Bung Hatta sibuk menawar namun harga tak kunjung cocok. Sais bendi menghardik gusar, “Kalau tak punya uang, jangan naik bendi. Jalan kaki saja.” Beliau hanya tersenyum dan berlalu.

Hatta telah mempersembahkan sebuah tulisan luar biasa di usia 18, belum lagi menginjak bangku perguruan tinggi. Tulisan personifikasi yang menggambarkan ibu pertiwi dalam diri seorang wanita yang bernama Hindania. Sebuah tulisan yang menggambarkan betapa luasnya bacaan Hatta muda dan tingginya minat beliau pada bidang sastra.

***

Tak kurang sejarah yang menggambarkan dinamika kehidupan seorang Bung Hatta bersama Bung Karno. Setelah dipersatukan oleh cita-cita membawa bangsa Indonesia membuka pintu gerbang kemerdekaan, dwitunggal ini akhirnya tanggal di penghujung tahun 50 an. Ketika akhirnya Hatta dengan arif mengundurkan diri dari pemerintahan dan merelakan biduk negara yang pernah diperjuangkannya selama hampir separuh hidupnya menjadi milik Sukarno seorang.

Nurcholis pernah menggambarkan Hatta sebagai seorang dengan pemikiran yang sangat modern tapi tetap pekat dalam kesalehan agamanya. Terlahir dari keluarga Minang yang kental dengan ajaran Islam, Hatta menjadi sosok yang religius namun memiliki pemikiran tajam, wawasan luas dan tak terbatas waktu.

Masa kecilnya tak hanya diisi dengan belajar, mengaji dan menulis. Hatta adalah penggila bola. Tak hanya bersorak dari pinggir lapangan, Hatta tergabung dalam sebuah klub sepakbola yang diisi oleh pemuda-pemuda belanda dan kaum pribumi. Klub yang menjadi juara Sumatra selama tiga tahun berturut-turut selama dengan Hatta pada posisi gelandang tengah. Teman belandanya menjulukinya, “Onpas seerbaar” (sukar diterobos begitu saja).

Minatnya pada dunia pergerakan membawanya bergabung bersama Jong Sumatranen Bond semasa bersekolah di MULO. Tahun 1921, Hatta tiba di Negeri Kincir Angin untuk melanjutkan kuliah. Semasa di Belanda, Hatta aktif di sebuah perkumpulan yang beberapa kali berganti nama hingga akhirnya memilih nama, “Perhimpunan Indonesia.” Tahun 1926, Hatta memperkenalkan nama “Indonesia” kepada dunia internasional saat memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis.

Tahun 1932, setelah menamatkan pendidikannya di luar negeri, Hatta pulang ke tanah air. Selanjutnya, bersama Sukarno, Sjahrir dan pejuang-pejuang kemerdekaan lainnya, mereka bahu membahu mengobarkan perlawanan kepada kaum penjajah. Menafikan semua perbedaan, para kalangan agamis-sosialis (bahkan yang sosialis garis keras sekali pun), bersatu memperjuangkan pencapaian kata “kemerdekaan” bagi segenap bangsa Indonesia.

Awal tahun 1935, Hatta dan kawan-kawannya dibuang ke Tanah Merah, Boven Digoel, Papua. Hatta menolak mentah-mentah tawaran seorang kapten Belanda yang menawarkan agar para tahanan politik ini bekerja pada pemerintah Belanda dengan upah 40 sen sehari dan memiliki kemungkinan untuk dikirim pulang ke ibukota. Hatta menegaskan, “Bila mau bekerja untuk kolonial sewaktu masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji tidak main-main. Tak perlu jauh-jauh ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan upah 40 sen.”

Di pengasingan nun jauh di salah satu wilayah paling timur Nusantara, Hatta membawa serta 16 peti buku-buku koleksinya. Di sana, Hatta terus mengobarkan perlawanannya dengan menulis. Akhir tahun yang sama, Hatta dan kawan-kawan dipindahkan ke Bandaneira.

Di masa pendudukan Jepang, Hatta kembali ke tanah Jawa. Masa-masa ini tak banyak pernyataan yang dikeluarkannya. Namun, di tahun 1942, pidatonya di Lapangan Ikada menggemparkan banyak pihak, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.”

17 Agustus 1945, bersama Bung Karno, Hatta muncul sebagai pemimpin bangsa yang merdeka secara resmi untuk pertama kalinya. Membawa mereka berdua sebagai “Bapak Proklamator Indonesia.”

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah. Termasuk untuk di bidang ekonomi dan koperasi. Tak hanya menuangkan pikiran dalam rangkaian kata-kata, Hatta aktif membimbing dan melaksanakan cita-cita dalam pembangunan koperasi dan konsepsi ekonominya. Karena jasanya ini, beliau layak mendapatkan predikat sebagai “Bapak Koperasi Indonesia.”

Jauh sebelum mengundurkan diri secara resmi, Hatta sudah melayangkan surat terlebih dahulu kepada Sukarno. Akhirnya, di 1 Desember 1956, Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Walaupun tengah didera berbagai perselisihan, Sukarno tak serentak mengizinkannya untuk ‘pergi’. Tapi Hatta tetap berkeras. Setelah Hatta benar-benar menyerahkan jabatannya sebagai orang nomor dua di RI, banyak pihak tetap memperjuangkan bersatunya kembali dwitunggal ini. Tak ada yang berhasil.

Tahun 1960, tulisan Hatta yang kontroversial, “Demokrasi Kita”, muncul dalam Majalah “Pandji Masyarakat”, asuhan Buya Hamka. Pemerintah murka. Buya Hamka dipenjara dan tulisan itu terlarang untuk disebarkan.

Namun, perseteruannya dengan Bung Karno tak pernah melebar kepada hal-hal pribadi. Mereka berdua hingga di akhir hayat masing-masing tetap merupakan dua sahabat yang sangat lekat.

Saat masa-masa suram mewarnai akhir hidup seorang Sukarno, Hatta tidak tinggal diam. Hatta yang mengetahui proses perawatan Sukarno yang dianggap kurang terhormat, menuliskan surat kecaman kepada Soeharto. Hatta pun ngotot ingin bertemu sahabatnya.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah setengah sekarat. Hatta menyapa “Bagaimana kabarmu, No?” Matanya sudah basah.

Bung Karno menjawab, susah payah tangannya berusaha meraih lengan Hatta “Hoe gaat het met Jou?” “Bagaimana pula kabarmu?”

Berdua, dalam kamar yang kondisinya sangat tidak layak, kedua proklamator bangsa ini menangis bersama. Sejarah menjadi saksi betapa tidak bahagianya dua orang yang pernah segenap jiwa memperjuangkan kemerdekaan bangsa mereka. Hatta pulang, tak lama Bung Karno pun meninggal. Seolah menunggu agar bisa bersua dengan sahabat lamanya. Sungguh hubungan yang menyesakkan dada.

***

Tak memiliki kemampuan verbal dalam berbicara sepiawai rekannya, Sukarno, Hatta mencurahkan pengetahuannya dalam bentuk tulisan. Meninggal di tahun 1980, Hatta mewariskan harta termahalnya, “30 ribu judul buku.” Integritas dan kesederhanaan hidup menjadikannya mutiara tak terjamah dalam deretan pemimpin dahulu dan sekarang. Lebih langka lagi sebagai negarawan yang juga sangat aktif dalam menulis.

Seorang penyair dari Padang, pernah berkata kepada anak-anak yang datang kepadanya untuk belajar menulis puisi, “Tulislah sesuatu yang kalian ketahui tentang Bung Hatta. Dia orang besar dan hidupnya seperti buku yang tak akan pernah tamat dibaca.”

Semoga Allah mencurahkan rahmat dan pengampunan bagi beliau. Amin :). Sedikit biografi Bung Hatta ini semoga bisa membantu memahami jalan perjuangannya yang mungkin tidak sementerang rekannya, Bung Karno :).

***

Disarikan dari berbagai sumber :

“Hatta, Jejak Melampaui Zaman” (serial Bapak Bangsa Majalah Tempo)
eramuslim.net/?buka=show_biografi&id=22
www.ghabo.com/gpedia/index.php/Mohammad_Hatta

2 thoughts on “Biografi Bung Hatta, Sebuah Buku yang Tak Akan Pernah Tamat Dibaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *