Places Called Home

by : Jihan Davincka

***

Setelah 8 tahun hengkang dari kota kelahiran tanpa pernah mudik sekali pun, tahun 2006 saya kembali mendarat di Bandara Hasanuddin. Waktu itu bersama 3 orang kakak dan adik perempuan saya, kami pulang kampung ramai-ramai :D. Ibu dan si bungsu masih bermukim di kota Makassar waktu itu.

Liburan kami cuma sekitar 2 hari. Di salah satu kesempatan, kami berlima (minus sulung dan bungsu) jalan-jalan ke lokasi rumah kami yang dulu. Jalan Pajenekang no.70. Kakak saya yang ke-2 menamainya Japan 70 :P. Sang ratu drama ini setengah mati menahan agar mata tidak basah. Soalnya yang lain malah cekikikan mengingat masa kecil kami yang sebagian besar dihabiskan di rumah berlantai tiga yang dilapisi ‘batu dende’ itu hihihihihi.

Nyaris tak ada yang berubah. Pagarnya saja yang lebih bagus. Malamnya saat akan tidur sedihnya masih terbawa.

Tahun 2007, kami kembali mudik bersama. Hendak menghadiri resepsi pernikahan kakak saya yang ke-3. Diantara kami yang telah menikah, hanya dia yang berjodoh dengan sesama bugis hehehe. Sisanya diborong oleh orang Madura, Jawa, Batak dan Minang :P.

The Magnificient 7! :D

The Magnificient 7! πŸ˜€

 

Waktu itu saya berkesempatan untuk melewati lokasi Japan 70 tadi. Cuma berdua adik kalau tidak salah. Aneh juga. Rasanya tidak sesedih setahun sebelumnya. Biasa-biasa saja.

Iseng-iseng adik saya bilang, “Belimi nanti ini rumah lagi, Jee. Tinggalin kalau perlu.”

Saya langsung menampik, “Idih, ngapain…”

***

Beberapa bulan setelah melahirkan anak pertama, saya dan suami pindah ke rumah sendiri. Senangnya jangan ditanya ^_^. Tapi hanya sekitar 5 minggu di rumah baru, suami berangkat ke Tehran. Memulai petualangan pertamanya ke negeri rantau.

Rasa senang langsung menipis. Mendadak sepi. Akhirnya ada kesempatan saya dan anak saya untuk menyusul. Senangnya luar biasa. Walaupun sempat dirongrong rasa takut akan isu ‘keamanan ala Timur Tengah’ tetap ada rasa gembira akan berkumpul kembali bersama suami. Yang paling diingat dari Tehran, masa-masa jalan-jalan bertiga menyusuri trotoar sambil mendorong stroller, menikmati yahudnya kota cantik ini.

Berdua Abil di Parke Sa'i - Tehran :D

Berdua Abil di Parke Sa’i – Tehran πŸ˜€

Singkat cerita, episode Tehran berlalu dengan cepat. Saya kembali ke tanah air. Suami kembali mengembara ke kota Jeddah. Sebelas bulan suami ‘memperjuangkan’ agar bisa mendapat iqama (KTP Saudi) dan bisa kembali memboyong kami ikut ke sana.

Hampir setahun menempati rumah pejaten bertiga saja dengan anak sulung saya dan asisten rumah tangga. Rasanya selalu ada yang hilang. Tidak seperti di rumah sendiri. Biarpun saya sering meminta ibu untuk datang menemani atau mengundang adik dan kakak, tetap saja rasanya berbeda.

Ibu saya memang selalu berpesan, “Kalau sudah menjadi istri, tempat terbaik itu di samping suami.”

Akad nikah dengan baju bodo, adat Sulawesi Selatan  :)

Akad nikah dengan baju bodo, adat Sulawesi Selatan πŸ™‚

Akhirnya kesempatan untuk berkumpul bersama suami datang juga. Biarpun sempat diwarnai drama sengit saat harus memilih antara Montreal vs Jeddah. Singkat cerita, it is Jeddah :).

Dua tiga minggu pertama di Jeddah uring-uringan melulu hehehe. Ngomel terus-terusan. Apa sih maunya, Mbaaaakkk? hehehehe :D.

Lama kelamaan, mungkin juga akibat terbawa rasa senang bahwa akhirnya berkumpul juga setelah hampir setahun terpisah, masa adaptasi dilewati dengan lancar.

Padang Badar - Saudi

Padang Badar – Saudi

Di bulan ke-2 bermukim di Jeddah, mendapat kabar bahagia, hamil anak ke-2. Sempat ingin pulang saja ke tanah air dilanda ketakutan akan melahirkan sendiri di negeri orang. Baik ibu maupun mertua, tak ada yang bisa datang menemani. Selalu ingat pesan Ibu tadi, “Kalau sudah menjadi istri, tempat terbaik itu di samping suami.”

Alhamdulillah, episode melahirkan berlangsung lancar tanpa kendala. Cuma diberi kesempatan 24 jam di kamar rumah sakit, pulang ke rumah pun penuh percaya diri :D. Bersama suami, terlewati juga masa-masa itu. Dulunya tak terbayangkan, sekarang kalau diingat malah nyengir-nyengir sendiri hehehe. Bersyukur diberi keberanian untuk tidak meninggalkan suami sendiri yang sudah berjuang hampir setahun untuk membawa kami ke sana :'(. Padahal inginnya bermanja-manja di pangkuan Ibu sendiri kalau hamil begitu, ya hehehehe.

And then…here we are now. Semakin menjauh dari tanah kelahiran. Melanjutkan pengembaraan hingga ke Eropa barat kini.

Liburan ke Glendeer Pet Farm, Irlandia :D

Liburan ke Glendeer Pet Farm, Irlandia πŸ˜€

 

***

I learned. Home is not a spesific location. It’s not always a certain building that’s simply called house. Many times, home are the people, along with the memories I’ve created with them :). Bukan bangunan rumah di Japan 70 yang kadang membuat separuh hati ingin terbang ke masa lalu. Tapi kenangannya. Tapi orang-orang yang pernah menemani saya melewati 15 tahun besar di sana.

Tentu saja keinginan untuk kembali ke sana akan luntur seketika menyadari bahwa hanya akan ada saya saja. Saya ingin kembali. Tapi dengan formasi lengkap. Ada Ibu dan 6 orang sisa pasukan lainnya. And if that’s not too much, I want my Dad too :D.

***

nikah bugis

Tepat hari sabtu, tanggal 28 April, 6 tahun lalu, lelaki istimewa ini duduk bersama kakak laki-laki saya di hadapan penghulu. Sesuai adat bugis, mempelai wanita menunggu dalam kamar. Setelah dengan lancar membaca ijab kabul, saya pun dibawa keluar. Kami pun berfoto bersama mengenakan baju bodo biru memamerkan 2 buku nikah di tangan masing-masing. Besoknya, resepsi di gedung, berdiri di atas pelaminan dengan baju minang berbalut warna emas. Not a big day, but 2 big days in a row :D.

“For the two of us, home isn’t a place. It’s a person. And we are finally home.” (Stephanie Perkins, Anna and The French Kiss). Setelah menikah, seorang perempuan akan menemukan ‘rumah’nya yang baru.

nikah minang

Enam tahun di ‘rumah baru’ ini, bukannya tak pernah ada perselisihan. Beuhhh, banyak dan heboh-heboh ya, Pops hihihihihi :P. Alhamdulillah, kita belum pernah ‘menyerah’ dan tetap memilih untuk berada di ‘atap’ yang sama :).

Kalau boleh mengubah sedikit lirik lagu Michel Buble :

Another summer day
Has come and gone away
In Jakarta, in Tehran, in Jeddah, and now…in Athlone
As long as there’s you (and our little buddies :P)
I always feel that I’m home πŸ™‚

But the most exciting, challenging and significant relationship of all is the one you have with yourself. And if you find someone to love the you that you love, well, that’s just fabulous. – Carrie, SATC

Semoga keberkahan dan waktu tetap berpihak pada kita. Then, I can write the same note for the next year and the next two years and…beyond :).

Happy (belated) anniversary, Pops ^_^.

***

The Rosyadi 2013

21 thoughts on “Places Called Home

    • Keliling dunia? Hihihihihi, amiiiinnnn. Masih muter-muter di TimTeng plus Eropa barat nih :D. Thanks Mbak sudah mampir ^_^

  1. mbak, nasihat yang bagus dari ibunya β€œKalau sudah menjadi istri, tempat terbaik itu di samping suami.”
    mengingatkan saya bahwa “sebaik2nya wanita adalah istri yang selalu mendampingi suaminya, ibu yang baik untuk anak2nya”…

    nice story Mak… so, u’re not going home (Indonesia) cause u’ve been found a place that u can called home..^^ (haduh,sok english banget dah, pasti tenses berantakan,haha)

    salam kenal mak ^^

    • Hehehehehe. Iya, pokoknya dimana-mana bisa jadi ‘rumah’ asal bareng suami dan anak-anak :D. Salam kenal juga, Maaakkk πŸ˜€

  2. Wahhh.. selamat hari jadi ya, mbak Jihan dan mr suami.. semoga selalu diberkati ALLAH SWT dgn keselamatan dan kebahagiaan lahir bathin, berjodoh dunia akhirat, amiiinnn…
    Btw, dulu yg jd wali nikah kakak ya, mbak… Samaaaa…. ! Sedih dan bahagia bersamaan, kerena inget alm bapak…
    Eh ya, salam kenal dulu dong. Saya nyasar kemari setelah baca artikel di TUM kemaren itu. Artikel yg bagus, bikin saya sukses mewek inget suka nggak sabar sama anak2…

    • Samaaaaaa, saya juga termasuk bertemperamen tinggi :(. Apalagi ke anak-anak huhuhu. Sebenarnya itu menulis pengingat untuk diri sendiri, kalau bisa berlaku yang sama untuk ibu-ibu lain, lebih bagus lagi :D. Aku sudah main ke istanamu juga, Baginda Ratu ^_^. Salam hormat dari hamba hihihihihi

    • Ini Bos Cici, ya? πŸ˜€ Jangankan nulis ginian, ngintip gaji orang aja gue jago, Bos ahahahahahahahaha :P.

  3. “Whatever thing you’re going to do on your wall, never put my name on it.”

    I said: We may own each other at home, but I definitely own myself at socmeds. I’ll never bother your FB groups, so do the same to mine πŸ˜€ πŸ˜€

    • Hihihihihi, kehormatan banget ini, Bu Guru Anna Farida komen (lagi) di blog ini πŸ˜€ *benerinPoni* dulu. Iya Mbak, tapi suamiku tuh alasannya takut tenar katanya kalau namanya disebut-sebut hahahahha :P.

  4. Jihan : Cantik, Smart !!! Seneng baca tulisan2nya, ringan dan mengingatkan kita pada kejadian di sekitar !!!

  5. Hepii anniversary mb Jihan,smoga langgeng dan bahagia. Kenangan akan masa kecil dan keluarga memang slalu bikin kangen ya, saya g bisa bayangin klo sampai beda pulau ama Ibuk saya, dikit2msh slalu ngrepotin beliau. Salut buat Mb Jihan yg bener2 mandiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *