Rendang Padang, Jauh di Mata Dekat di Lidah

Majalah Tempo pernah menerbitkan sebuah rangkaian biografi pelaku sejarah yang diberi judul “4 Bapak Bangsa.” Tidak tanggung-tanggung, 3 dari 4 “Bapak Bangsa” versi para wartawan senior dari media cetak tersohor ini berasal dari Tanah Minang. Ada Muhammad Hatta, Syahrir dan Tan Malaka.

Ranah Minang juga banyak melahirkan ulama-ulama besar  seperti : Agus Salim, Muhammad Natsir, Buya Hamka dll. Tak cuma itu, salah satu suku dari pulau Sumatera ini mempersembahkan tidak sedikit budayawan nasional. Sebut saja salah satu penulis fiksi favorit saya, Motinggo Busye.

Urang Awak, sebutan khas untuk orang Minang, tak hanya meninggalkan banyak jejak dalam sejarah bangsa. Yang mungkin lebih terkenal justru makanan tradisionalnya. Sajian khas Minangkabau cukup beragam.

Selain sate padang, soto padang, dendeng balado, berbagai macam gulai, juaranya tentu saja…rendang padang.

randang padang

Rendang padang pernah ditasbihkan sebagai salah satu makanan paling enak di dunia. Saya tidak terlalu peduli dengan keabsahan predikatnya. Untuk saya pribadi, rendang padang sedari dulu telah masuk daftar ‘the best food ever.’ Saya pun meyakini ketenarannya yang sudah bergema ke (hampir) seluruh pelosok nusantara.

***

rendang padangTak jarang saya disangka orang Minang. Padahal saya asli Bugis, Sulawesi Selatan. Takdir yang membawa saya ke tanah Jawa. Seperti pepatah, “Asam di gurun, garam di laut, bertemu di belanga.”

Saya merantau dari Makassar ke ibukota, bertemu suami yang asli Minang di kampus Depok. Di resepsi pernikahan kami, pertama kali saya bersentuhan langsung dengan  budaya Minang.

Selama pesta, hampir 2 jam saya bertahan di atas pelaminan dengan hiasan kepala setinggi 30 cm dengan berat kira-kira 3 kg. Namanya suntiang.

Menjadi menantu urang awak memperkenalkan saya lebih jauh dengan si rendang padang. Dulu terbiasa melihatnya sudah terhidang di atas piring, siap disantap dengan nasi putih. Sekarang melihat langsung ibu mertua meracik rendang di dapur.

Bahan baku rendang padang tidaklah serumit yang saya bayangkan. Maklum saja, rasa khas dari daging berbumbu satu ini sukar dicari tandingannya. Wajar jika saya sempat mengira ada bahan khusus yang (mungkin) tidak pernah digunakan oleh bahan makanan lain. Semacam ‘bumbu rahasia’.

Sebut saja bahan-bahannya secara umum : jahe, daun kunyit, asam jawa, santan, bawang merah, bawang putih, kemiri, daun salam, daun jeruk dan lengkuas. Tidak ada yang ‘aneh-aneh’ bukan?

Ternyata rahasia kelezatannya tidak cuma sekadar memadukan bumbu rempah, daging dan santan. Proses pengolahannya tidak sembarangan. Untuk mendapatkan hasil akhir rendang padang yang hitam, kering dan bumbu yang meresap sempurna hingga ke serat daging yang paling dalam, butuh proses pematangan yang lama.

Menyadari sang menantu yang ‘awam’ urusan dapur, Ibu Mertua setengah becanda bilang ke saya, “Ya ampun, tidak usah terlalu serius mau  bikin rendang padang. Beli saja. Lebih praktis dan enak.”

Saya setuju. Rendang Padang tidak termasuk tipe makanan yang ‘mudah’. Selain perlu  pengalaman, waktu yang dihabiskan juga tidak sedikit. Sayang juga menghabiskan waktu selama itu untuk membuat rendang yang dikonsumsi oleh rumah tangga sendiri saja. Untuk saya pribadi, membeli rendang padang yang sudah jadi adalah pilihan yang lebih bijaksana.

***

Ternyata, bukan cuma perpindahan pulau yang menghampiri nasib saya. Sejak 4 tahun lalu, suami mendapat kesempatan bekerja ke luar negeri. Saya dan anak-anak ikut diboyong.

Setiap waktu mudik usai dan saatnya kembali ke luar negeri, si rendang ini selalu menjadi penghuni tetap koper kami. Karena proses memasaknya yang cermat, rendang padang menjadi tahan lama, tidak mudah basi. Rendang padang juga sering menjadi oleh-oleh yang populer. Khususnya untuk sesama orang Indonesia di tempat kami bermukim.

Siapa sih yang tidak suka rendang? ;). Namun, proses packingnya tidak mudah.

Berdasarkan pengalaman, beberapa imigrasi di negara-negara tertentu sedikit ‘rewel’ urusan isi bagasi para pendatang. Pada umumnya kalau makanan sudah dibungkus rapi dengan merek dagang resmi, petugas imigrasi tidak akan mempermasalahkan. Tapi jika dipaketin secara manual, ada kemungkinan akan diinterogasi macam-macam.

Belum lagi, agar aman, paket makanan biasanya disebar dalam koper dan akan bercampur dengan pakaian dan lain-lain. Harus berhati-hati dalam membungkus makanan agar minyak dan bumbunya tidak berceceran.

Makanya, perlu trik dan waktu khusus lagi untuk si rendang padang ini. Perlu membeli box plastik khusus, perlu plester sana sini berkali-kali, box-nya dipermak lagi agar rapi dan tidak mengundang kecurigaan si petugas imigrasi. Belum lagi kalau memborong rendang sebagai oleh-oleh untuk teman-teman. Membungkusnya tentu harus dipisah-pisah. Makin kewalahan saat packingnya.

Mau serepot apa pun, ya tetap dibela-belain ya boooo :p.

rendang padang

***

Inovasi yang dilakukan oleh  beberapa rumah makan padang, mungkin akan terlihat sederhana saja. Tapi benar-benar merupakan angin segar buat para perantau seperti kami. Maklumlah, kemana pun kaki melangkah, urusan perut tak bisa diremehkan.

Walaupun dulu merepotkan, kami selalu ngotot memboyong rendang padang dalam koper. Makannya dihemat-hemat agar bisa lama menikmatinya.

Meninggalkan sanak saudara dan kerabat nun jauh di tanah air tidak selalu mudah. Setidaknya menyantap nasi putih yang berhiaskan beberapa potong rendang padang di sisi piring, selalu mengingatkan saya pada satu hal.

Tinggal di Jeddah memang menyenangkan, dekat dari dua kota suci, Mekkah dan Madinah. Bisa umrah sepuasnya dan naik haji dengan sangat mudah.

Bermukim di Eropa juga seru. Bertemu hal-hal baru seperti pemandangan yang cantik dan mengenal pola hidup serba disiplin dan mandiri.

Namun, tanah kelahiran tak pernah hilang dalam ingatan. Selalu menjadi tempat impian untuk berlindung di hari tua. Sampai akhir menutup mata :).

***

8 thoughts on “Rendang Padang, Jauh di Mata Dekat di Lidah

  1. Bener Mba, susyeh bikin rendang yg nikmatnya kaya orang padang buat..tapi, kalau masak rendang, selalu ludes dimakan anak-anak dan suami..ini yg bikin seneng, nggak sia-sia masaknya

    • Iya Mbak. Saya juga sering bikin rendang, lho. Masih rendang KW gitu, sih :P. Tapi ya kalau di Jakarta pasti males. Tinggal ke rumah mertua dan banyak warung padang enak-enak dimana-mana :P. Kalau di Jeddah dan Athlone, mau gak mau bertarung sendiri deh hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *