For Making Us a Fighter

Oleh : Jihan Davincka

***

Soal prestasi akademis, dari kecil saya tak pernah risau. Lulus SD dengan nilai bagus. Melenggang santai masuk ke SMP negeri ternama di kota kelahiran saya. Masuk SMU pun terbilang lancar. Hasil UMPTN menerbangkan saya jauh-jauh dari Sulawesi ke ibukota. Saat kuliah nilai cukup bagus, tepat waktu saat lulus, wawancara kerja pertama pun langsung tembus. Alhamdulillah.

Tapi tidak dengan adik perempuan saya. Adik saya termasuk tipe santai. Prestasi akademis bukan kelebihannya.

Saya dari dulu terkenal sebagai anak rumahan. Dia tipe anak gaul. Teman-temannya selalu banyak. Sering berkelompok dengan anak-anak yang memiliki orang tua bukan dari kalangan biasa-biasa saja. Padahal kami bukan dari keluarga berada.

Istimewanya, dia tak perlu ikut-ikutan meniru gaya hidup teman-temannya. Apa adanya dia, tak memaksa untuk memoles diri dengan barang-barang mahal. Dia pun bukan tipe yang ceplas ceplos, bukan tipe penjilat.

***

Adik saya perlu 3x untuk mengikuti UMPTN hingga akhirnya bisa menembus universitas negeri di Bandung. Setelah di kesempatan kedua pun tak berhasil, mulai banyak deh komentar-komentar negatif.

“Dia kan memang tidak pintar. Tidak usahlah dipaksakan kuliah. Dikawinin lebih bagus.”

“Dia terlalu banyak bergaul enggak bener, tuh. Main melulu kerjanya. Suruh kerja sajalah.”

Para kerabat mengecam pergaulannya yang dianggap melewati batas. Saya sih seribu persen meyakini itu cuma omong kosong. Dia sangat bisa menjaga diri.

Kakak saya akhirnya mendaftarkan adik saya ini ke universitas swasta setelah 2x berturut-turut gagal mendapat kursi di universitas negeri.

Tanpa diduga sekitar 2 bulan sebelum masa UMPTN hadir lagi, dia berkata, “Je, gue mau nyoba lagi. Masih ada 1 kesempatan terakhir”

Saya kaget, “Ha? Coba lagi? Yakin? Emang selama ini belajar lo?”

“Iyalah. Gue belajar terus, kok.”

Saya tak menyangka. Saya pikir dia sudah ‘menyerah’. Setelah semua kritikan pedas dari berbagai kerabat, beberapa diantaranya cukup ‘kasar’…she moved ON!

Saya memang sering melihatnya belajar malam-malam. Saya pikir dia belajar buat materi kuliah.

Saya terharu ketika akhirnya membuka-buka buku-buku tebal yang sering sekali dibacanya. Ternyata buku-buku persiapan UMPTN.

Selama ini dia kembali normal. Ceria lagi. Biasa-biasa saja. Dia kembali melanjutkan hidupnya. Bukan dengan menahan-nahan sakit hati, bukan dengan menyimpan dendam.

Di kesempatan terakhir, namanya muncul juga di koran. Tidak hanya itu. Adik saya pun ulus tepat waktu dengan predikat CUM LAUDE :). Tetap dengan kegiatan ‘anak gaul‘nya. Aktif di senat, menjadi panitia acara ini itu.

Adik saya dan teman-temannya :D

Adik saya dan teman-temannya 😀

***

Usia bukan alasan untuk mengukur kedewasaan, ya. Justru dari adik perempuan ini  saya jadi belajar beberapa hal. Pelajaran yang berharga untuk saya sendiri  beberapa tahun setelahnya.

Tahun lalu saya ingin menerbitkan sebuah buku. Buku “Bunda of Arabia” hadir karena saya geregetan dengan orang-orang yang mengasihani saya yang harus pindah ke Jeddah menemani suami. Ingin menjelaskan lebih banyak tentang kehidupan sehari-hari perempuan Indonesia di Jeddah.

Saya tahu, sementara prosesnya berjalan, suara-suara sumbang berseliweran, “Pedenya tu anak. Belum 2 tahun di Jeddah kok ya sudah merasa paling tahu soal Saudi.”

Belum lagi, “Dia tidak punya teman penulis beneran. Ke penerbit juga enggak punya link. Tulisannya juga yaaa…namanya cuma penulis blog, ya. Gue bilang sih yang beneran bisa menulis itu si anu. Menulis buku itu kan mesti bla, bla, bla … kenal sama bla, bla, bla…”

Ketika akhirnya bukunya terbit, komentarnya, “Dia cuma terbit indie. Pakai uangnya sendiri. Ya, semua orang juga bisa kali kalau punya uang.”

buku-boa.jpg

Setelah mendengar orang-orang berbicara seperti itu kok ya malah ‘panas’. Beberapa lama setelah itu saya seperti terpenjara dalam rasa sakit hati. Terus-terusan memikirkan omongan itu. Menulis pun dalam keadaan emosi. Sebal dan merasa terhina.

Menulisnya malah tidak santai. Susah memilih kata. Belum lagi ada desakan dari dalam, “Harus bagus. Harus bagus. Harus bagus.”

Lama-lama capek sendiri. Malah menulis menjadi susah. Akhirnya saya tersadar, “Kok malah didengerin? Menulis kan karena memang gue demen?”

Then, I just let it go. Menulis itu hobi jangan dijadikan beban mesti dapat uang, dll. Tapi jujur ucapan-ucapan tadi malah membuat saya makin penasaran. Karena dikomporin suami dan dengan bantuan mesin pencari Google, mulai tahu alamat-alamat redaksi media cetak nasional. Satu demi satu tulisan menembus media.

challenge-blog.jpg

 

***

Pengalaman saya dan adik mengajarkan 2 hal sekaligus.

Forgive others. Not because they deserve forgiveness. But because you deserve peace :). Adik saya akhirnya bisa dengan tenang melewati ujian dan proses kuliahnya setelah dia berdamai dengan dirinya sendiri. Kalau saya pun terus-terusan  hanya memikirkan komentar nyinyir tadi, mana sanggup meneruskan hobi menulis ke tahap lebih serius?

Ucapan orang lain tentang kita berada di luar kekuasaan kita. Orang mau mencap apa tak bisa kita tebak apalagi kita atur. Kabar baiknya, kitalah pemegang penuh kendali atas respons mana yang kita pilih. You’re the one who pick whether you stay happy or not. 

Saya juga jadi belajar tentang energi negatif dari orang lain. Don’t allow negative words trap you in negative useless thoughts. One of the great pleasure in life is … doing what people say you cannot do. Success is a best form of REVENGE :D.

Kalau ada yang mengatakan hal-hal negatif, bersabar dan bertahan. Jangan sampai langkah terhenti. Kita akan tersadar bahwa orang-orang seperti ini pun punya jasa yang tidak sedikit. They’re making us a fighter :). A stronger one. Be thankful anyway and…MOVE ON! ;).

"Don't Sweat The Grumpy, Move On!"

“Don’t Sweat The Grumpy, Move On!”

***

19 thoughts on “For Making Us a Fighter

  1. Suka banget quotes nya, saya mengalami sendiri, ketika gagal dihakimi sedemikian rupa, ketika berhasil melakukan sesuatu eh, diragukan, yo wis lah, terserah saja.

  2. Move on bukan hanya soal gagal cinta ya mb, tiap kali browsing mesti nemu move on karena patah hati.hehe *mb udah memberikan postingan yang keren sebagai obat galau anak muda..
    good luck 🙂

    • Yang inspiratif itu, yang PULUHAN tulisan jalan-jalannya udah tembus ke media cetak hehehehe :D. Sudah 20 an kali ya Mbak ;). Ato jangan2 30?

  3. mba, insyaallah taun ini aku mau mukim di rotterdam ikut (calon) suami. doakan yaa…kalo boleh mau bgt jadi kontributor di blog mamasejagat 🙂

  4. parah tu komen2.. jadi pengen gw tanggapi:
    “Pedenya tu anak. Belum 2 tahun di Jeddah kok ya sudah merasa paling tahu soal Saudi.” –> gak penting lama or sebentar, yg penting dalam waktu itu banyak perhatian & dalem interaksi dgn tempat tinggalnya

    “Dia tidak punya teman penulis beneran. Ke penerbit juga enggak punya link. Tulisannya juga yaaa…namanya cuma penulis blog, ya. Gue bilang sih yang beneran bisa menulis itu si anu. Menulis buku itu kan mesti bla, bla, bla … kenal sama bla, bla, bla…” –> bwahahaha ngakak aja deh. nothing is impossible!

    “Dia cuma terbit indie. Pakai uangnya sendiri. Ya, semua orang juga bisa kali kalau punya uang.” –> salahkaprah kaleee.. penerbit indie gak berarti musti modalin ndiri semuanya. cuma sedikit aja uang pangkal. duit yg dikeluarkan paling juga sama dgn kirim2 naskah ke berbagai penerbit.

  5. mbak..akhirnya baca tulisannya lengkap nih
    tadi pas komen di facebook cuma baca pengantarnya aja hehehe

    syukurlah yah mbak yang sudah terjadi sama mbak jihan dan adiknya malah jadi bikin pemicu buat jadi lebih baik
    tapi aku kok heran ada yah orang2 yang selalu nyinyir gitu. apa karena aku terlalu cuek kepedean sama keadaan sekitar jadi ga pernah denger atau peduli org2 kayak gitu di sekitarku yah hehehehe

    dan memang bener banget
    “sesungguhnya kalau kamu berbuat kebaikan, kebaikan itu untuk dirimu sendiri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *