A Little Snow Before Sunshine

by : Jihan Davincka

***

Sudah 30 hari. Asiiiikkk, ada alasan menulis status :P.

Bersama musim dingin yang sepertinya masih enggan bertukar tahta dengan musim semi hingga penghujung Maret ini, liburan paskah tengah berlangsung di Eropa. Libur resmi sejak hari jumat. Senin besok pun masih libur. 4 days in a row! ^_^

Ada suami di rumah, hari sabtu kemarin saya keluar berbelanja sendiri. Pertama kalinya nih, bersolo karier di jalanan kota Athlone tanpa iring-iringan duo balita :D.

Untuk membeli daging, harus ke toko khusus. Satu-satunya toko berlabel halal berjarak 2-3 km dari apartemen. Sebenarnya ada bis yang bisa mengantar ke sana. Atas nama kesehatan, mari kita berjalan kaki :D.

Cukup aneh buat si pendatang baru di Eropa, berjalan kaki di bawah teriknya matahari tapi suhu mentok di 3 derajat. Kulit muka terasa ditusuk-tusuk terkena tamparan angin dingin. Sempat menyesal tidak memilih naik bis saja.

Semakin menjauh dari pusat kota, jalanan mulai melebar. Pemandangan sisi kiri kanan jalan yang tadinya dipenuhi gedung-gedung toko, restoran atau apartemen, mulai berganti.

Rumah-rumah kecil bercerobong asap. Dengan rumput hijau di seluruh areal pekarangan yang luas. Bangunan bercat warna-warna pastel. Pohon-pohon berjajar rapi. Si banci Eropa mendadak kegirangan sendiri. She was so thankful that she finally had a chance to see all of these, right thru her eyes…directly. Persis seperti yang pernah dibayangkan waktu kecil. Yang dulu diangan-angankan kalau melihat latar belakang gambar buku-buku cerita bule terjemahan.

O ya, ada kebiasaan baru di sini yang mengundang sewot suami. Kalau istilahnya Abil, “permainan mulut naga.” Tahu kan, jika kita menghembuskan nafas lewat mulut di udara sedingin itu, ada asap yang ikut keluar dari mulut.

Kalau sedang bersama suami, kadang saya dan Abil berulang-ulang melakukan itu. Suami langsung ribut, “Ya ampun, udah dong. Norak tauuuu. Entar orang-orang ngeliatin.” Ahahahhhahaha.

Mumpung tidak ada suami, saya berkali-kali menarik nafas panjang, membuangnya lewat mulut. Senyum-senyum sendiri melihat asapnya berhamburan dari mulut. Lalu menghilang terbawa angin. Sampai puas dan akhirnya kelelahan sendiri. Bahagia itu sederhana :). Or let’s simply call it … norak! ๐Ÿ˜›

Tapi rasa senangnya langsung menguap tak berbekas. Sudah capek-capek berjalan kaki menantang udara dingin sejauh itu, tiba depan pintu toko, tokonya belum buka! Oh, crap! huhuhuhu. Bukanya masih satu jam lagi. Langsung lemas. Setelah menunggu 10 menit, si emak-emak nan malang ini pun pulang naik bis dengan tangan hampa.

***

Kalau soal teman, let’s just say it’s pretty ‘quiet’ here. Tapi karena pada dasarnya memang orang rumahan alias kuper dari sononya, tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi. Walaupun seringnya kangen juga dengan madam-madamku nun jauh di gurun sana :D. Belahan jiwa, apa kabarmu? Kuharap selalu tetap kau jaga, tumbuhan cinta yang di ladang kitaaaa …ย #sodorinMic :D.

Soal memasak? Well, a bit tricky yet challenging. Tapi sejak di Jeddah pun, memasak hampir tiap hari. Tidak suka jajan soalnya. Begitu tahu kalau daun jeruk dan sereh ternyata tak susah ditemukan, suddenly … all is well :D. Maklumlah, si lidah kampung bisanya masak masakan ‘kampung’ ;).

Yang tak terduga, seringnya terpaksa memencet tombol ‘hide’ untuk akun-akun yang hobinya memposting foto-foto Ka’bah atau anywhere @Madinah :P. Dua tempat yang konon katanya memang paling menyita rasa rindu untuk para alumni Jeddah :).

Pemandangan di belakang apartemen saya cantik sekali. Dari jendela kaca raksasa yang menguasai dinding belakang apartemen, kita bisa sepuasnya melihat sungai cantik yang membelah kota Athlone menjadi 2 sisi. Ada kapal-kapal kecil berwarna putih, yang masih sering terlihat diam di sisi-sisi dermaga kayu yang terhampar di sepanjang pinggiran sungai. Mungkin sama seperti saya. Sudah gelisah menunggu datangnya musim semi agar bisa melepas jangkar, membawa penumpang dan kembali meneruskan fitrahnya untuk…berlayar :).

cropped-mg_6040_1_2_tonemapped.jpg

Karena sinar matahari cukup langka di negeri berlangit muram dan murah hujan ini, begitu terik sedikit, saya tak membuang kesempatan untuk duduk-duduk di atas sofa. Tepat di hadapan jendela kaca tadi. Di seberang sungai, sebuah gereja tua berarsitektur khas Eropa kuno berdiri tegak. Ada jam dinding besar di sisi gereja yang menghadap ke sungai yang bisa kami intip kapan saja. Jadi hemat deh, enggak perlu beli jam dinding segala. Ahahahahahha.

Bahkan, yang seindah itu pun tak cukup sanggup memuluskan masa-masa beradaptasi, ya hehehehe. Mengapa pula di musim pertama tinggal di sini mesti dipertemukan dengan musim dingin selama ini. April sudah menjelang, tapi menurut sebagian besar penghuni benua ini, “Suasananya masih seputih bulan desember.”

Pernah suatu hari di Jeddah, dengan memakai baju kaos berlapis sweater plus celana panjang dan kaos kaki, saya memencet bel tetangga depan. Kala itu, baik saya dan dia belum berstatus ‘alumni’ :D.

“Bundaaaaa, dinginnyaaaaa…” Saya langsung menghambur masuk begitu empunya rumah membuka pintu.

“Iya. Katanya sekarang suhunya 19 derajat. Di bawah 20, nih.”

“Duh, pantesan dingin banget.”

Ironis, ya. Di sini, 19 derajat mungkin sudah puncaknya musim panas. Hehehehehe.

Itu baru soal suhu. Soal harga juga butuh penyesuaian khusus :P. Saya pernah menegur suami yang suka protes dengan harga-harga di sini, “Stop converting anything to riyal. It never works.” Apalagi kalau sudah menyerempet pajak. Stop remembering Saudi! Ahahahaha. Surga dunia urusan uang ;).

Maybe when in Europe, we can start learning about the value, rather than the price :).

Iya tho? Lain lubuk lain ikannya. Beda ladang, beda ilalang :). Mana pernah jalan-jalan di Saudi, berpapasan dengan orang yang baru ketemu pertama kali dan mereka menyapa dengan wajah penuh senyum, “Hai, how are you?”

Pernah suatu kali saat berjalan kaki menuju supermarket, sebuah bis diberhentikan oleh seorang bapak-bapak. Dia melambaikan tangan dari seberang jalan. Supir berhenti. Ternyata, dia bersama seorang perempuan sebayanya, yang mungkin istrinya. Juga seorang anak laki-laki dan setumpuk barang bawaan yang tidak mungkin terangkut dengan sekali jalan. Supir bis menunggu dengan sabar sembari si Bapak menuntun istrinya, balik lagi menjemput si anak, kemudian kembali membawa barang-barangnya.

Hebatnya, antrian mobil di belakang bis tadi tidak sedikit, lho. Tidak ada suara klakson sama sekali hingga akhirnya bis kembali berjalan. Kalau di Jeddah, sedang mengantri di lampu merah pun, suara klakson saling menyahut tidak sabaran :P.

Menurut teman di sini, orang-orang Irlandia ada juga yang suka menyerobot dan tidak sabaran. But I told her, “Trust me, once you live in Jeddah, you’ll change your mind in one second.” Berinteraksi dengan sesama pengemudi di jalanan Saudi punya seni tersendiri. Hehehehe.

Tapi kemudian, terbayang lagi yang murah-murah tadi semasa masih tinggal di Jeddah. Tak perlu repot mencari bahan makanan apa pun. Everything is halal in shaa Allah :).

Hampir pingsan melihat harga bensin di sini. Kami saja yang tidak terlalu sering jalan-jalan, meteran pengukur jarak di mobil (Jeddah) menunjukkan angka 35 ribu km untuk masa pakai 2 tahun. Ke warung jarak 100 m saja naik mobil kitaaaa ahahahaha. Hm, pantas saja susah sekali berbadan langsing di Saudi. Manalagi mendapat ‘perlindungan penuh’ dari abaya hitam yang wajib dikenakan kemana-mana :P.

***

Mana ada tempat yang isinya senang-senang semua? :).

Pasti ada masa-masa matahari bersinar dengan sangat teriknya. Sampai-sampai kita mesti memicingkan mata dan tak sadar mengutuk, “Gile, panas amat, sih. Bisa gosong nih gue.” Tapi kalau sinarnya menghilang, bete deh cucian enggak kering-kering.

Selalu ada saat-saat hujan menguasai masa. Susahnya mau kemana-mana. But wise man said, “Everybody wants happiness. Noone wants pain. But you can’t have a rainbow without a little rain.”

Seperti pula di musim dingin berkepanjangan yang kadang membuat orang terlihat sedikit lebay (me, me, me! :P). Nyaris tak ada salju di Irlandia. Nyaris. Sudah beberapa kali pemandangan dari jendela memperlihatkan sekumpulan kapas kecil-kecil beterbangan di udara. Finally, I see snow. Thank God, just a little ones :). Dan saya setuju dengan suami yang pernah berkata, “Perhatiin gak, kalau habis salju kecil biasanya langit bakal terang.”

Indeed. And if we can make a little change …”You can’t have a sunshine without a little snow.” There it goes our motivational quote ^_^.

Can’t wait to see spring and summer. Satu-satunya hal paling tepat yang bisa dilakukan, seperti yang tertera di bak-bak belakang truk yang biasanya melintasi jalanan antar kota, “SABAR MENANTI.” ๐Ÿ™‚

Gambar : weheartit.com

Gambar : weheartit.com

 

6 thoughts on “A Little Snow Before Sunshine

  1. Jihan suamiku lg dinas luar kota aku jadi bacain blogmu dari tadi. Hidup di LN cita cita dari…kecil. Baca tulisanmu bikin hati hangat, meski udah 34 tahun si cita-cita belum kelihatan akan tercapai hahaha. Irlandia ya, aku fans berat Maeve Binchy dan aku koleksi semuaa novelnya sampe yg Minding Frankie hihi bukunya ringan sih, tapi pas baca Dublin langsung deh teringat semua setting cerita dia. Tapi si Anthlone ini belum pernah kayaknya kubaca *atau lupa dr antara 14 an bukunya itu hihi*

    • Iyap, secara cuaca Inggris mirip-mirip sama Irlandia katanya. Sama-sama ‘bad weather countries’ ๐Ÿ˜€

  2. ohh mbak…, tulisanmu tentang dunia luar Indonesia, membuatku jadi ingat mimpi-mimpiku, travelling ke berbagai tempat, termasuk ke ln. Sayang…, belum terwujud. tetapi tulisanmu menginspirasiku untuk tetap menanam mimpi, sewaktu-waktu, semua itu bisa kuwujudkan kembali. mungkin, tidak sendiri seperti mimpi-mimpiku dulu, tapi bareng keluarga. apa yang tidak munghkin khan untuk Allah.., tempat kita meminta? ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *