What is Invisible to The Eyes

Pencinta drama identik dengan penggemar kisah-kisah cinta. Tidak salah :D.

Tapi dari dulu tidak terlalu suka dengan drama-drama korea. No offense, ya hehehe. Tapi kalau dorama Jepang lumayan suka. Ceritanya variatif dan tidak melulu mentok di kisah sepasang kekasih yang sering ditampakkan sebagai “It’s us against the world!”

Gambar : weheartit.com

Gambar : weheartit.com

Serial romantis dari dorama Jepang yang berkesan, tontonan wajib abg 90 an :P, apalagi kalau bukan “Tokyo Love Story” dan “Ordinary People.” Ceritanya enggak pakai nangis-nangisan tidak jelas lah pokoknya.

Tapi sebenarnya ada satu, nih, yang lumayan meninggalkan bekas. Bukan karena cerita atau tokohnya tapi sepenggal percakapan di beberapa episodenya. Oh ya, judul filmnya, “The End of The World.”

Ini adalah semacam ‘tes’ iseng-iseng si pemeran utama perempuan jika bertemu laki-laki sebayanya (siapa saja, tidak mesti kecengan atau pacar) :

P : “Kalau kiamat datang, kau diberikan sebuah perahu. Tapi kau hanya boleh membawa satu jenis binatang bersamamu. Kuda, merpati, macan, atau merpati. Kau pilih apa? Kenapa?”

Biasanya si laki-laki menjawab macam-macam. Ada yang tegas memilih merpati, “Burung mudah dipelihara.”

Ada yang berpikir dahulu, “Mmm…aku rasa kuda atau macan. Entahlah karena apa.”

Sedikit yang menjawab, “Kambing.”

Tahu tidak, waktu saya SMA, saya hampir selalu menanyakan hal yang sama kepada teman-teman saya. Baik laki-laki maupun perempuan. Tiap hewan yang dipilih akan menunjukkan satu hal yang paling dianggap penting dalam kehidupan si penjawab.

Saya cukup takjub dengan hasilnya. Cukup akurat, lho hehehehe. Setidaknya menurut saya pribadi :P.

Try that for fun! ^_^.

***

Begitu usia sudah tidak muda lagi *uhuk uhuk*, I still love the love stories. Tapi malas nonton film, dorama, apalagi serial korea. Saya lebih suka yang nyata. Bertanya langsung kepada teman-teman saya, “Eh, dulu lo ketemu suami lo gimana ceritanya?”

Pertanyaan ini bagi yang sudah menikah saja.

Ini sudah kebiasaan lama, kok hehehehe. Reaksinya macam-macam. Sebagian besar selalu malu dan risih pada awalnya. Tapi, tak lama, dengan penuh semangat, meluncur deh cerita selengkapnya.

Beberapa cuplikannya adalah sbb (tentu saja, nama disamarkan :P) :

Yang ini cerita si Wortel, “Ih, dulu gue kenalnya dia masih punya pacar, taukkk. Waktu putus, ampe nangis-nangis dia cerita ke gue.” Terus, kita ngakak berdua.

Saya penasaran, “Terus, terus?”

“La ya gak tau juga. Tahu-tahu kita jadi dekat terus gak lama kawin, deh.”

“Lu paksa kali.”

“Enak aja. Tahu enggak, pacarnya yang dulu itu pinter-pinter.”

“Nyesel dong dia.”

Muka Wortel malu-malu, “Katanya gue juga pinter. Pinter ngurus anak.”

Eaaaahhhhhhh…ngakak guling-guling.

Kalau Tomat lain lagi. “Ketemu pertama enggak sengaja. Janjian ama temen lain padahal di kantin gedung lantai 14.” (Masih ingat dong gue lantainya ahahahahahahha).

Pertemuan kedua pun tak ada yang istimewa. Ketiga, diajak makan siang bareng. Tomat dong buru-buru ke toilet rapiin rambut. Ealah, ternyata lunchnya berempat ihihihihihi.

Setelah beberapa kali jalan bareng, Tomat tidak tahan. Minta nomor HP duluan. Serasa nonton film ih dengar si Tomat berkisah. Kita, waktu itu ada beberapa teman lain sebagai pendengar, sampai tepuk tangan dengan noraknya.ย Hahaha.

Tomat bercerita hanya kenal dan sempat jalan-jalan sekitar beberapa bulan, tak dijanjikan komitmen apa-apa. Tapi tak lama tahu-tahu diajak bertemu keluarga besar si calon suami. Lengkap dengan insiden saltumnya :P.

Itu tuh contoh laki-laki jagoan. Enggak banyak omong, langsung tentuin tanggal! ;). Lucky you, Tomat :D.

Bayam tidak kalah serunya. “Waktu kuliah sih, rasanya biasa saja. Tapi kemana-mana aku diintilin melulu, Mbak.” Ihiiiyyyyy.

Kisah mereka tak terlalu mulus, sedikit ditentang oleh pihak-pihak tertentu. Namun, berakhir manis di pelaminan :).

Ada juga, Bawang Merah dan Cabe Rawit. Dua-duanya melalui jalur ta’aruf (spelling?).

Kata Bawang Merah, “Waktu mau menikah, kita nentuin kesepakatan bersama, gimana enaknya, gimana baiknya. Kayak bikin proposal aja.”

Tapi jodoh di tangan Tuhan, ya. Keduanya masih langgeng sampai sekarang. Insha Allah sampai seterusnya :).

Terong Ungu ketemu sang pangeran di bangku sekolah. Kenal dari kecil. Waktu SMA, malah Terong Ungu berada di posisi sebagai mak comblang. Eeehhh, malah jadian sama klien sendiri :P.

Terpisah jarak dalam kurun waktu yang tidak sebentar tapi akhirnya bersanding bersama di hari H :). Ada yang dalam sekejab mata, ada yang menjalani rentang waktu yang lama.

Kalau Sawi malah bilang, “Pertama kali mau dikenalin ke aku, dianya enggak mau!”

Sayangnya, ceritanya tidak kelar-kelar sampai sekarang. Tidak tahu nih lanjutannya apa sehingga akhirnya duduk berdampingan di hadapan bapak penghulu :D.

Yang dijodohkan orang tua juga ada. Sebut saja Daun Kemangi (ya ampuuunn, enggak ada sayuran lain, nih. Hihihihihi). Daun Kemangi konon sudah menjadi incaran calon ibu mertua waktu umurnya masih 10 tahun. Beneran kejadian akhirnya.

Saya pernah bertanya, “Nyesel gak sih dulu nerima lamarannya?”

Daun Kemangi tidak perlu waktu lama menjawab tegas, “Suamiku itu satu diantara seribu.” Nyesssssss :D.

Yang akhirnya mengikat janji dengan teman lama tidak sedikit juga. Buncis misalnya. Sudah jauh-jauh kuliah di kota lain, berjodohnya ternyata dengan teman SMP (apa SMA, ya?) di tanah kelahiran juga akhirnya :).

Ada pula kisah cinta ala “Ainun-Habibie”. Ini Brokoli punya cerita. Konon, kekasihnya kala itu adalah seorang calon dokter. Datang wakuncar dengan mengendarai sedan. Lalu, si calon suami datang di saat yang sama. Lupa euy, waktu itu datang pakai angkot atau motor. Yang jelas bukan becak kayak Habibie :D.

Entah kenapa, Brokoli malah mantap dengan yang datang tanpa mobil itu. Cerita indah mereka berlanjut di pelaminan dengan jumlah anak yang kini tidak sedikit. Tambah lagi, Mbak Brokoli! *dilemparPampers*

Kembang Kol mengaku ‘salah sasaran’. Maksudnya?

“Gue dulu naksirnya sama yang lain. Eh, kok malah dia yang geer dan gencar deketin. Ya sudahlah, malah keterusannya sama dia.”

“Yaaaa, nyesel dong…”

“Enggak banget. Kita memang banyak bedanya. Tapi gue akuin, dia yang paling cocok buat gue.” How lovely :). Bravo, Kembang Kol.

Tuhan punya caranya sendiri untuk mengirimkan pasangan yang tepat untuk kita. Bahkan memilihkan yang mungkin tidak terpikir sebelumnya. Jangankan kepikiran, masuk kriteria saja tidak.

Seperti Kangkung. Yang berharap berjodoh dengan pria tinggi, rambut lurus, berkacamata (biar kelihatan pinter gitu :P), dan bukan orang Minang! Kalau bisa anak menteri atau sekalian anak presiden. Ahahahahahaha *sodorinKacaBiarNgaca*. Ya, tinggi dan pinternya dapat lah :D.

Ini jadi kenapa membahas sayur-sayuran, siiihh? Hehehehe.

sayur

***

Tidak perlu capek-capek menonton film romantis, kan? Saya merasakan getaran yang sama kalau melihat wajah mereka (si para sayuran di atas :P) yang tanpa sadar merona merah. Matanya berbinar-binar biarpun sibuk cekikikan malu-malu.

Kalau melihat tanggalan hari ini, 14 februari, langsung ingat…coklat! Hehehehehe. Konon, hari ini adalah hari kasih sayang. Bahasa kerennya, Valentine Day.

Tentu kita semua sepakat, kasih sayang itu seharusnya dirayakan tiap hari. Tapi saya senang-senang saja ada penanggalan khusus seperti ini.

Bukaaannn, bukan karena pengin disayang-sayang, tapi karena sebagian besar rak-rak makanan di toko-toko akan memajang aneka rupa coklat. Penggila coklat langsung bersorak :D. Belum lagi tawaran potongan harganya.

Jadi, selamat hari Valentine buat para penjaja coklat. Selamat menikmati salah satu momen dimana keuntungan meningkat secara signifikan.

Selamat hari Valentine buat para penjual bunga :). Mungkin hari ini, omzet yang biasanya tidak seberapa, tiba-tiba melonjak tajam. Enjoy this day :).

And my dear friends, yang kisah-kisahnya saya ceritakan di atas, I love you too. Not only for today. Tapi karena hari ini saya melanggar janji untuk tidak mengisahkan cerita kalian ke publik, saya mohon kasih sayangnya untuk sudi memaafkan hihihihihi.

Kebahagiaan sudah selayaknya dibagi-bagi. “Happiness is only real when shared” ๐Ÿ™‚.

***

7 thoughts on “What is Invisible to The Eyes

  1. iya , aku kalo ke nikahan orang paling suka nanya ketemunya di mana. Suka mikirin, dan senyum senyum sendiri. Pokoknya aku suka cerita cintaaaaa…hihi cerita cinta siapapun. Kalo dulu ada temen yang jadian, aku yg paling duluan teriak :tell me, detaillsss please. *perasaannya ya, aneh gak sih ini* Btw i love Tokyo Love Story, tapi masih suka nyes nyes inget endingnya. Aku maunya mereka jadiaaaan…bukan cuma berjalan ke lain arah dan melihat ke belakang lalu jalan lagi huhuhuhu

    • Justru endingnya yang bikin gregetan itu salah satu kekuatan serial ini Mbak menurutku hehehehe ๐Ÿ˜€

  2. Aku juga dulu pecinta drama Jepang di Indosiar. Mulai Tokyo LOve Story, Anything 4 u, 1001 proposal, ordinary world, under the same roof …ampe 29 christmast. Tpi lupa deh ma yg judulnya :end of the world

    • Pemeran utama The End of The World itu si ‘Rika Akana’ yang di Tokyo Love Story, lho. Hehehehe :D.

  3. Kl saya sih ketemu calon istri di acara ramadhan.kebetulan 3-4th sblm ramadhan pernah kenal dia,cuma sekadar kenal di Y*hoo msg dan ga prnh chat. Abis acara,kebetulan sy msg dia untuk ngelamar,paling chat 15menitan,eh diterima. 5 bulan kemudian kita nikah. Ya udah,gitu aja sih dari saya ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *