Setetes Embun di Majalah Kartini

Kabar gembira nih dari rubrik Setetes Embun di Majalah Kartini ^_^.

Di Facebook, seorang teman men-tag saya di postingannya dengan cover Majalah Kartini. Intinya mengabari kalau tulisan saya ada yang dimuat di sana. Kaget juga. Redaktur sama sekali tidak memberi kabar. Dimuatnya tepat satu edisi setelah edisi yang memuat tulisan jalan-jalan kemarin. Padahal waktu liburan ke Jakarta harusnya sempat beli, tuh. Tapi karena gak tahu ya gak beli hehehe :P.

Belinya yang memuat tulisan jalan-jalan ke Thaif itu saja. Tahu gitu kan bisa beli satu edisi setelahnya lagi :(. Ya sudahlah, tahunya juga belakangan hehehe.

Untungnya di baqala Indonesia (Singaparna) ternyata menjual Kartini edisi ini. Horeeeee… Dimuat di rubrik setetes embun di Majalah Kartini. Akhirnya non fiksi selain tulisan jalan-jalan mulai menemukan jodohnya *tsaaahhh*.

Saya pikir kabar bahagia tentang jejak pena di media cetak sudah berakhir di tahun ini. Ternyata ada lagi. Alhamdulillah.

Terima kasih, Majalah Kartini ;).

Berikut tulisannya ya, naskah asli yang saya kirim ke Majalah Kartini sebagai  berikut (saya modifikasi dari tulisan “Every Mom Has Her Own Battle”, ganti-ganti katanya dikit biar lebih formal ^-^)  :

Ini dia

Contoh Tulisan Setetes Embun di Majalah Kartini

***

Salah satu ‘perang dingin’ yang tak kunjung usai antara sesama ibu-ibu adalah masalah SAHM vs WM. (Stay at Home Mom vs Working Mom).

Ibu Pekerja akan jumawa memamerkan dirinya sebagai potret emansipasi. Punya uang sendiri, berdiri di atas kaki sendiri. Merasa menampilkan wajah modern perempuan terkini.

Sedangkan Ibu Rumah Tangga akan membanggakan baktinya sebagai potret sejati seorang Ibu. Tinggal di rumah, merawat anak langsung dengan tangan sendiri adalah pekerjaan mulia tiada terkira. Dengan keyakinan penuh bahwa surgalah balasannya kelak.

Dan akhir-akhir ini, kancah pertarungan diramaikan oleh pendatang baru. Ibu yang tinggal di rumah namun tetap berbisnis dan menghasilkan uang.

Yang satu mengatasnamakan kemandirian. Ada yang merasa berhak atas surga. Dan ada yang merasa sebagai pemenang sejati, menggenggam kemandirian sekaligus berperan aktif dalam rumah sepanjang hari.

Parenting style itu unik tiap keluarga. Saya tidak pernah meragukan itu. Saya tidak percaya jika lebih banyak SAHM yang berhasil mengantar anak-anaknya ke gerbang kesuksesan. Sekaligus tidak meyakini sepenuhnya bahwa para WM harus mengorbankan keluarganya demi karier.

Ibu saya tidak di rumah sepanjang waktu. Mama panggilannya. Saya ingat betul saat pulang sekolah dulu, bukan Mama yang menyiapkan makanan di meja. Bukan wajahnya yang pertama kali muncul saat saya membuka mata setelah waktu tidur siang usai. Yang meladeni saya berganti-ganti.

Tapi saya tidak pernah lupa yang mana Mama saya. Apalagi berniat memanggil yang berganti-ganti itu dengan sebutan ‘Mama’. Tidak pernah. Kalau waktu bisa berjalan mundur pun, saya tidak akan meminta agar Mama sepanjang hari di rumah bersama kami.

Salah satu kerabat yang saya kenal juga berprofesi sebagai Ibu Kantoran. Dari awal perkawinan hingga detik ini. Ketiga anak-anaknya tumbuh diatas rata-rata. Yang bungsu kini tengah menempuh pendidikan kedokteran di universitas negeri ternama di tanah air. Kakak-kakaknya tidak kalah hebatnya secara akademis maupun non akademis.

Dan ada beberapa kerabat yang memilih jalur ’Ibu Rumah Tangga’. Tapi kenyataan membuktikan anak-anaknya malah belum mampu berdiri secara tegak bahkan ketika mereka telah memasuki gerbang pernikahan.

Tapi ketika saya memutuskan mengakhiri status sebagai Ibu Kantoran 3 tahun yang lalu bukan karena figur mana pun. Itu pilihan saya pribadi. Buat saya, itu adalah pilihan terbaik yang paling cocok untuk saya. Belum tentu buat orang lain.Tentu banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Tidak 100%  kerelaan langsung berlabuh dalam hati.

***

Tak perlu mencibir Ibu Kantoran yang menghabiskan banyak waktu di kantor. Sementara anak mungkin dititipkan kepada pengasuh atau kerabat.

Jangan lupa, sepanjang hari di kantor, statusnya sebagai Ibu tidak dilepas begitu saja. Subuh-subuh sudah harus bangun mempersiapkan makanan si kecil. Pagi – siang – sore menelepon ke rumah mengecek si kecil di sela-sela kesibukan kantor.

Jangan menghakiminya. Belajar saja akan ketangguhannya membagi waktu. Kekuatan hati yang tanpa batas untuk senantiasa membagi pikiran antara pekerjaan di kantor vs pekerjaan di rumah.

Jangan meremehkan para Ibu yang memilih untuk tak berbagi dengan siapa pun dalam pengasuhan anak dan urusan rumah tangga. Sekali pun mungkin mereka pernah mengenyam pendidikan yang cukup tinggi.

Sepanjang hari di rumah bersama anak tidak hanya menggunakan kekuatan fisik saja, batin juga mesti kuat ya. Jangan anggap sepele, ambil saja hikmah kesabaran seluas samudera yang dimiliki mereka, yang memilih jalan ini.

Jadi, intinya bukan di seberapa banyak waktu yang diluangkan untuk keluarga. Apa artinya bila pilihan itu tak bermakna dan malah menjadi bumerang?

Relakah meletakkan karier demi anak tapi sepanjang hari meratapi pilihan itu?

Apa sanggup setiap hari menghabiskan waktu di belakang meja, tapi tak kunjung rela bila membayangkan anak harus berada di tangan orang lain? Sebesar apa pun keinginan untuk membahagiakan anak dan keluarga, jangan pernah mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.

Apa yang coba ditawarkan kepada mereka, jika kita sendiri telah merasa kebahagiaan kita telah tercabut dari akarnya? Ingat petunjuk keselamatan dalam pesawat untuk pertolongan pertama saat sirine tanda bahaya berbunyi, “Selamatkan diri Anda terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain.”

***

“Surga dibawah telapak kaki Ibu.” Bukan di bawah telapak kaki Ibu Rumah Tangga, Ibu Pekerja Kantoran, atau Ibu Pengusaham bahkan Ibu Pelajar. Tapi di telapak kaki (semua) Ibu.

Semua pasti ada pengorbanannya. Setiap Ibu punya pertaruhan masing-masing. Menangkan pertempuran yang Anda pilih tanpa perlu nyinyir terhadap mereka yang memilih jalan ’lain’.

***

Tertarik mengirim ke rubrik Setetes embun di Majalah Kartini? Kirim saja ke email redaksi_kartini@yahoo.com ;).

 

7 comments
  1. Alhamdulillah. Satu lagi bisa hattrick tuh, udah dua bulan berturut-turut 🙂

    1. Nanti tanya ke Messi dulu caranya, Pak hehehehe.

  2. Berapa lama nunggunya Mba? Punyaku belum ada kabar samapai sekarang.

    1. Saya malah enggak dikasih tahu, Mbak. Saya atahu dari teman yang langganan Kartini. Itu pun tahunya teliat. Untung banget, edisi Kartini itu malah ada di toko Indonesia di Jeddah hehehe. Saya kirim kalau tidak salah bulan Agustus. Dimuatnya di akhir november. Honornya mesti ditagih berkali-kali hehehe. Yah, yang penting mejeng di Kartini ya hihihihihi :P.

      1. Atau ditelusuri saja di tiap edisi Kartini setelah mbak Ety ngirim. Mana tahu udah pernah dimuat, tapi gak nyadar aja hehehehehe ;).

  3. syaratnya berapa lembar yah Mbak? saya mau kirim tapi bingung panjang tulisannya

    1. Mungkin sekitar 500 kata kali ya

Comments are closed.