Semua Anak … Cerdas!

“Kunci kesuksesan anak Anda? Matematika dan bahasa Inggris!” Begitu isi tulisan sebuah spanduk yang terpampang lebar-lebar yang dipasang di sebuah jembatan penyeberangan.

Saya tidak sengaja melihatnya ketika melewati salah satu jalan protokol ibu kota. Lagi macet parah. Daripada putus asa karena taksi saya tak kunjung bergerak maju, saya alihkan saja pandangan menyisir apa saja selain keruwetan yang terjadi di depan jalan sana.

Kelihatan spanduk yang cukup besar itu. Slogan di atas tertulis mencolok dengan warna ngejreng. Oh, ternyata iklan sebuah tempat kursus buat anak-anak. Di bawah kalimat tadi, ada keterangan mengenai nama tempat kursus, lengkap dengan alamat dan nomor teleponnya.

Wah, trik pemasaran yang cukup jitu ;) .

***

Kenapa, sih? Jangan-jangan saya menulis ini karena saya tak pandai di kedua mata pelajaran di atas. Jangan salah. Saya ini sering sekali menjadi juara kelas dari SD hingga SMA, sombong sedikit.

Bahkan kuliah di fakultas yang sangat mengandalkan kemampuan logika matematika. Bahasa Inggris? Wah, sedari kecil saya suka sekali dan tak pernah punya kesulitan berarti dengan bahasa Inggris.

Saya berasal dari keluarga besar. Tujuh bersaudara. Jadi sudah biasa dengan macam-macam karakter dan pola pikir. Saya yang sangat cerewet ini bisa hidup damai tentram satu atap belasan tahun dengan kakak-kakak dan adik-adik saya yang “warna warni”.

Adik saya yang perempuan sangat supel, banyak teman, biarpun prestasi akademisnya sedang-sedang saja. Iri deh dengan kemampuannya bergaul di semua kalangan. Kontras dengan dia, kakak saya yang nomor 3 sangat pemalu. Hanya bisa mengobrol santai dengan orang-orang terdekat saja, padahal orangnya super kocak. Jika di depan umum, membisu seribu bahasa.

Salah satu kakak saya, yang nomor 4, pas di atas saya, saat ini sedang berada di puncak kariernya. Dia salah satu definisi sukses buat saya. Memangnya apa sih kerjanya? Ahli matematika? Jago sekalikah bahasa Inggrisnya?

Bukan sama sekali! Kakak saya bekerja di bidang mode. Bukan seorang desainer, tapi seorang fashion stylist! Saya tak menyangka juga hobinya mengutak-atik cara berpakaian seseorang, berburu busana dari mal mewah hingga pasar loak, bisa menghasilkan uang banyak.

Dari kecil kakak saya ini sangat alergi sama yang namanya matematika. Dia sungguh kerepotan menghadapi mata pelajaran yang satu ini. Dia juga tidak suka bahasa Inggris. Tapi sekarang sudah mulai mau belajar karena sering bepergian ke luar negeri.

***

Semua orang menginginkan anaknya tumbuh cerdas dan menuai kesuksesan di masa depan. Tapi apa sebenarnya definisi CERDAS ini?

Contohnya saya. Prestasi akademis saya terbilang gemilang di masa sekolah. Tapi tahu tidak, ada satu mata pelajaran yang sangat saya takuti. Olahraga. Iya, saya paling tidak bisa olahraga. Saya bolak-balik mendapat angka 6 untuk pelajaran satu ini.

Pada suatu ujian praktik, saat duduk di bangku SMA, malunya minta ampun. Saya satu-satunya siswi yang tidak berhasil mencetak satu angka pun di bawah ring bola basket. Masing-masing diberi kesempatan sebanyak 10 kali. Dan saya gagal total. Teman-teman banyak yang meledek. Termasuk kecengan saat itu yang memang salah satu punggawa tim basket di sekolah kami. Rasanya ingin menghilang ditelan bumi.

Di kantor dulu pernah mewabah hobi main pingpong. Berebutan ingin belajar. Ternyata gampang karena tiba-tiba jadi banyak yang bisa. Termasuk para karyawati. Saya ikutan belajar, dong. Biarpun sudah tiap hari sepulang kantor minta diajari, selama sebulan penuh, servis saja tidak pernah bisa!

Yah, urusan olahraga, bukan kurang lagi, tapi saya termasuk idiot. Sama dengan urusan menghafal jalan. Entah sudah berapa kali kami sekeluarga berangkat ke Mekkah dari kota Jeddah. Saya masih kebingungan dengan rutenya. Saya sering merasa jalan yang kami lewati itu berubah-ubah.

Suami saya sampai jengkel karena saya sering bertanya, “Kok lewat sini? Tidak lewat jalan kemarin saja?” Dia menggerutu, “Aduh, ini kan jalannya dari dulu selalu lewat sini. Masa tidak hafal juga, sih?”

Lagi-lagi, urusan menghafal jalan, saya cuma bisa pasrah. Saya sangat lemah untuk urusan satu ini. Makanya selama tinggal di Jeddah, suami melarang keras saya naik taksi sendiri. Padahal di sini boleh-boleh saja, lho, perempuan naik taksi sendiri ke mana-mana. Padahal struktur jalan di kota Jeddah teratur banget, lurus, dan berbentuk kotak.

Nah, karena pada dasarnya kecerdasan itu memang macam-macam. Pasti sudah familiar dong dengan istilah multiple intelligence. Apakah itu?

Ada 8 kecerdasan yang tercantum dalam pengertian ini :

  1. Verbal/Linguistik
  2. Logis/Matematis
  3. Visual/Pandang-ruang (spasial)
  4. Tubuh/Kinestetik
  5. Musikal
  6. Intrapersonal
  7. Interpersonal
  8. Naturalis

Jadi sebenarnya naive sekali, ya, kalau kita hanya menempelkan definisi cerdas secara sempit. Cerdas itu ya mesti jagoan matematika. Jago berhitung. Jago fisika. Padahal semua yang disebutkan barusan cuma satu di antara 8 kecerdasan yang ada.

Siapa bilang anti matematika punya pengaruh besar dalam kesuksesan kita? Nanti saya kenalkan ke kakak saya ya.

Jadi, tipe-tipe kecerdasan ini cukup penting untuk digali agar kita lebih mudah mengarahkan bakat anak kita untuk masa depannya nanti. Kalau sudah bisa menemukan passion yang tepat, didalami dengan sungguh-sungguh, tinggal urusan waktu saja untuk menuai keberhasilan.

Ini bisa iseng-iseng kita tes, lho. Konon katanya, menurut penelitian, tiap orang itu biasanya “kuat” di 3 hal, sedang-sedang saja di 2 hal, dan cukup “lemah” di 3 hal lainnya.

Contohnya… lagi-lagi, saya! Saya cukup fasih secara verbal-logis-interpersonal, tapi biasa-biasa saja di musikal dan intrapersonal, dan lemah di visual-natural-kinestetik.

Makanya tidak heran, saya lemah di kemampuan visual, jadinya gampang kesasar di jalan. Hal yang sama berlaku untuk kemampuan kinestetik/olah tubuh. Makanya tidak pernah bermimpi jadi atlet, cukup jadi fansnya atlet yang ganteng-ganteng saja. Hahaha.

***

Jadi, jangan buru-buru panik bila si kecil mengerutkan kening ketika dihadapkan dengan sederetan angka-angka. Coba serahkan raket tenis atau kenakan sepatu balet di kakinya?

Atau mungkin si kecil yang cantik tak kunjung gemulai jika suara musik menghentak-hentak mengajak menari. Coba kenalkan dia lebih dekat pada alam. Mungkin jiwanya mengarah ke naturalis.

Kesimpulan tulisan ini, saya kutip dari tulisan salah satu orang cerdas yang dikenang sepanjang masa :

“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”  ― Albert Einstein

Yakini, semua orang itu… cerdas!

***

Nah, ilustrasi fotonya adalah foto para bocah-bocah gue hehehehe. Terlihat jelas biarpun sama-sama anak laki, mereka  tipe yang berbeda :). Si sulung Abil sudah menunjukkan potensi verbal dan logika yang cukup tinggi. Terlihat aktif dan lincah nan ‘garang’ namun persis kayak Mamanya, kinestetisnya kurang hihihihi.

Adapun si kecil Narda. Lebih pemberani mengarah ke naturalis kali, ya. Kinestetik jauh lebih terasah dari abangnya.

Love you both…no matter what ;). *kecupBasahSatuSatu*

18 thoughts on “Semua Anak … Cerdas!

  1. Jgn bosen klw aq komen y Mba…tp untuk yg satu ini…setuju 1000%.
    Setiap anak cerdas…dgn caranya masing2….tergantung bgmna qt sbg orangtua mengenali n membantu mengasah kelebihan yg dimiliki anak2 qt.

    • Iyap. Tapi yah kadang kondisi lingkungan membuat ‘peer pressure’ yang cukup berat, ya. Apalagi buat para ibu-ibu yang rentan ‘nyinyir-nyinyiran’ gitu hihihihi.

  2. Iy btul bngt…ky kmrin nih…pas pembagian nilai UKK…bu ibu itu saling pamer nilai anak…ƪ(“˘ _˘ “)Ʃ klw udh ky gini aq mendingan lngsung pulang….bukan krna nilai anakku jelek tp takut dibilang pamer krna nilainya Alhamdulillah 95-98 smua #ini sih pamer namanya “̮ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮.. Lebih tinggi dri anak2 mereka 🙂

    • Maksudnya gimana Mak? Eike enggak nyaranin homeschooling kok hehe :D. Tapi menekankan kalau kita enggak perlu banding-bandingin kecerdasan anak-anak kita. Wong, pasti semuanya cerdas kok :P. Aamiin. Homeschoolingnya itu macam mana sih Mak? Jadi penasaran hehe. Share dong. Link mana link 😛

  3. hihi….kepala ku lagi puciiiing nyari SD buat anak ku…tp lumayan refresh setelah baca ini…oohh…betapa aku mencintai anak-anak ku 😉 semua anak memang cerdas yaa…dan setiap individu itu unik…ga ada yang sama. Lanjut kan mba jihaaaann…..

  4. Assalammu’alaikum mbak, tulisan2nya bagus yah, aku ngepensss hehe

    Aku jg percaya bgt tiap anak yg dilahirkan itu pasti punya kelebihannya masing2x. Tinggal kita sbg orang tua yg jeli melihat kelebihan2x itu dibandingkan sibuk membandingkannya dgn anak lain.

    Btw, kita satu almamater yak? Baru sadar liat di FB hehehe 😀

    • Waaaahhh, anak Fasilkom juga kah? *toss* dulu :D. Iya nih, soalnya saya juga anaknya 2, laki-laki semua. Tapi tipenya berbeda banget. Orang-orang cenderung banding-bandingin :D.

  5. salam kenal mba..mba jihan sama bnget ky aku loh,,prestasi akademis bagus, tpi klo pelajaran olahraga selalu dapet nilai jelek..n masalah menghafal jalan jg sma,,musti dilewatin tiap hari dulu tuh baru inget sma jalannya..

  6. Reblogged this on Just Share and commented:
    Para orang tua harus baca artikel ini, semua anak cerdas dan mrk punya kecerdasan di bidangnya masing-masing 😀

  7. Setuju mba, semua anak pasti cerdas yaaa
    Buat aku, gpp anakku ga jago matematika, yang terpenting dia menyukai apa yang dikerjakan dan dia ahli di bidang itu 🙂

  8. setuju banget, saya sependapat bahwa tidak ada anak yg bodoh, cuma jenis kepintarannya berbeda2, makanya gak gitu kuatir anak lain cerdas ini-itu, sementara anak saya belum bisa, terkadang juga memang karena belum diajarin….

Comments are closed.