Until It’s Gone


by : Jihan Davincka

***

Terlahir sebagai anak ke-5 dari 7 bersaudara, membuat saya banyak mengeluh waktu kecil dulu. Hampir tak ada privasi dalam rumah biarpun bangunannya terdiri dari 3 lantai.

Hanya ada 2 kamar tidur di rumah. Kamar tidur orang tua dan satu lagi entah kamar buat siapa. Bila malam tiba, kami tidur di lantai paling atas. Menggelar kasur-kasur, lengkap dengan kelambunya. Serasa berkemah :P.

Saat pagi menjelang, kasur-kasur akan digulung kembali. Kelambu-kelambu dicopot dan dilipat rapi-rapi. Ditaruh di pinggir-pinggir. Ruangan pun menjelma menjadi tempat santai dan ngumpul sambil menonton televisi.

Waktu kecil saya suka menulis diary. Tak sengaja, kakak saya no.4 pernah merebutnya. Saya panik, dong, langsung rebut balik. Ya, itu diary isinya nama-nama teman laki-laki yang saya taksir di sekolah semua. Hihihihihi. Masih SD padahal :P.

Ayooo ini siapa? hihihihi :D

Ayooo ini siapa? hihihihi ๐Ÿ˜€

Kakak saya mungkin tak ada niat untuk berbuat lebih jauh. Tapi karena saya merespons terlalu ‘keras’, jadilah dia curiga. Dan tentu tak susah menemukan buku kecil bersampul biru itu pada akhirnya. Ya, rumah mini begitu, mau diumpetin dimana juga pasti ketemu lah.

Jadi deh, saat itu jadi bahan tertawaan kakak-kakak saya. Saya juga sempat takut kalau Mama tahu. Tapi Mama cuma senyum-senyum saja. Hehehehe.

Saya juga suka menggerutu soal meja makan kami yang berukuran ‘normal’. Idealnya untuk 4 orang saja. Bila dipaksakan menambah 2 kursi di sisi-sisi lainnya, bisa sih berjejalan hingga 6 orang.

Kamar mandi pun tak luput dari persaingan. Hanya ada dua kamar mandi. Dan kamar mandi di lantai dasar itu kurang banyak peminatnya. Entahlah, saya merasa tempatnya agak ‘spooky’ *dasarPenakut:P*. Jadilah kamar mandi di lantai dua itu yang wara wiri digunakan oleh seisi rumah.

Empat orang kakak laki-laki saya, duh, serasa menginap deh kalau menggunakan kamar mandi. Kadang mesti digedor kalau ada yang kebelet. Akhirnya kakak no.4 mencanangkan kamar mandi lantai dasar sebagai hak milik pribadi. Tapi masih ada 6 orang lagi saingan untuk penggunaan kamar mandi di lantai dua.

Lagi-lagi saya suka sebal.

***

Ritual bulan Ramadan pun cukup unik. Biasanya di siang hari kami suka main monopoli. Dimana pemainnya biasanya maksimal 4 orang. Ajang berantem lagi.

Menjelang waktu berbuka, biasanya duduk malas-malasan bersama-sama. Nanti ada saja yang iseng. Adik perempuan saya lebih ‘santai’ dan penurut. Jadilah saya (yang dari dulu memang nyolot dan nyinyir) jarang luput dari keusilan kakak-kakak saya. Awas lu semua! :P.

Saat beduk magrib, seisi rumah menyantap hidangan ringan dulu. Pastilah penganan yang manis-manis seperti cendol, biji salak, aneka kolak, dan favorit hampir semua orang : es buah! Saya pribadi sih lebih mengidolakan es kelapa muda yang diberi peresan lemon dan dibubuhi gula pasir *nelenLudah*.

Ritual selanjutnya, salat magrib. Kadang ada yang nekat langsung menyerbu meja makan. Tapi jarang ada yang berani. Pastilah salat berjamaah dulu dan selanjutnya pasang kuda-kuda merebut posisi di meja makan. Hahahaha.

Khusus bulan ramadan, Mama suka bikin menu-menu khusus. Menu yang biasanya sering muncul jika bulan ramadan tiba saja. Seperti misalnya lebih sering membuat masakan ayam. Di kota Makassar kala itu, harga ikan jauh lebih ‘bersahabat’ dibandingkan daging sapi dan ayam. Dan oiya, olahan daging sapi memang tidak banyak yang ‘nendang’, sih. Terutama untuk lidah kami sekeluarga.

Urusan daging ayam pun ada saja yang bisa menjadi sumber keributan. Kakak-kakak saya hanya mau daging dada saja. Pokoknya kalau bukan dada, ogah. Apalagi yang nomor 3. Dada ayam itu harga mati :D.

Bila ada menu favorit seperti cumi yang dipotong besar-besar dan dibakar, harus sigap. Tidak ada istilah “ingat yang lain, dong.” Pokoknya siapa cepat dia dapat.

Jadi, jangan terlena bila melihat bongkahan buah semangka besar-besar yang menumpuk dalam kulkas. Kalau lengah, tiba saatnya membuka pintu kulkas, hanya nampan kosong yang terhidang di depan mata.

Pokoknya hidup itu keras, Bung. Ahahahaha.

Di tengah-tengah ramadan, Nenek biasanya datang. Nenek saya jago masak. Orangnya kuat betul berkutat di dapur sepanjang hari.

Kalau sudah terhidang yang namanya “likkua manuk” (ayam lengkuas), itu artinya lebaran sudah hampir tiba ^_^.

Pesona si “ayam lengkuas” ini tidak pandang bulu. Pernah ada kejadian, asisten rumah tangga kami kala itu tidak mau ikut salat magrib berjamaah selepas buka puasa sesi hidangan ringan. Padahal biasanya dia rutin ikut.

Mama saya memang santai urusan asisten ini. Terserah saja. Makan saja kami selalu semeja dengan mereka, kok :). Tak pernah dibeda-bedakan piring-mangkok-gelas-sendok sekali pun.

Biar tidak heboh, sesi makan malam saat ramadan itu biasanya dibuat dua shift. Sesi pertama untuk laki-laki. Selanjutnya barulah yang perempuan. Tapi tetap saja suka ribut urusan tempat duduk :P.

Selepas mengucapkan salam, kami mendapati si asisten ini ngedeprok di lantai dapur sambil asyik mengunyah. Posisi dapur di lantai dua, tepat di belakang ruang tengah lantai tempat kami salat berjamaah. Jadi, kalau menengok ke belakang, terlihatlah dia yang tengah makan dengan lahapnya. Oalah, ternyata dia mengincar si “ayam lengkuas” itu. Hahahaha. Padahal seisi rumah belum ada yang menyentuh.

Kami semua cuma cekikikan dan senyum-senyum. Tidak ditegur, tuh, oleh Mama. Paling dibilangin lain kali salat dulu saja baru makan :D, pasti kebagian, kok.

Penanda lain bahwa hari raya sudah menjelang adalah hadirnya belasan (saya curiga jumlahnya 20 an lebih malah) toples-toples kaca berisi kue kering. Toples-toples zaman dulu yang tinggi-tinggi itu, lho. Memenuhi sudut lemari atau digeletakkan begitu saja di bawah jendela saking banyaknya kadang-kadang.

Kue kering coklat yang bertabur kacang mede menempati posisi pertama dengan porsi sekitar 30% dari jenis kue keseluruhan. Kue coklat bisa 6-8 toples sendiri.

Posisi kedua ada kue keju. Mungkin bisa 3-4 toples. Dimana satu-satunya orang yang tidak suka kue keju di rumah adalah…saya! Lidah kampung, kata yang lain :D.

Posisi ketiga dan seterusnya ditempati oleh : kue kelapa, kue pandan, putri salju, ada juga yang modelnya setrip-setrip coklat-vanilla, pokoknya banyak banget deh, jenisnya.

Urusan kue lebaran dan ‘drama’ yang tidak kalah serunya kala hari lebarannya di depan mata akan menjadi episode lebaran tersendiri hihihihi.

Khusus ramadan tahun 1992 adalah edisi pertama dengan kehadiran adik bungsu kami. Belum genap usianya setahun, tapi tiap sahur tiba, tak pernah absen menjadi hiburan tersendiri buat kakak-kakaknya :P. Sekaligus menjadi ramadan terakhir dengan ‘pasukan lengkap’. Karena beberapa bulan setelah itu, Bapak sudah tidak ada di tengah-tengah kami.

***

Belasan tahun sudah berlalu sejak kami terakhir melewatkan ramadan-idul fitri bersama di bangunan tiga lantai yang diberi nama “Japan 70” (jalan pajenekang no.70) :D.

Season terakhirnya adalah di tahun 1995. Selanjutnya, semua resmi menjadi alumni hehehe.

Kalau dulu hanya ada keluhan dan ketidakpuasan, sekarang malah rindu. Dulu, iri dengan teman yang punya jumlah saudara yang irit. Saya membayangkan suasana rumah dengan sedikit anak pastilah lebih “gemah ripah loh jenawi” :P. Susah sekali merasa ‘senang’ saat dulu masih umpel-umpelan di “Japan 70”.

Sekarang kok, ya, kalau dingat-ingat lagi seru banget jadinya. Hal-hal yang dulu dianggap ‘cobaan’ malah tersapu waktu dan terpoles menciptakan kenangan-kenangan indah masa lalu. Biarpun saya tak pernah bisa membayangkan seperti apa rasanya menjadi Ibu dari 7 orang anak. Gile aje, lu :P.

***

Jadi, waktu-waktu yang kita lewati sekarang jangan sampai terisi dengan keluhan-keluhan melulu. Tapi sesekali menarik nafas panjang tak salah dong, ya :).

Misalnya saja saat ini, hampir tiap hari harus ngurusin dua bocah tengil beserta segambreng rutinitas lainnya. Sungguh menguras fisik dan rasa sabar yang memang pas-pasan :P.

Sering terbawa rasa jengkel. Masa iya, anak-anak saya mau tidur saja, mesti pula pakai ritual “pegang-pegang tangan mama” dulu. Atau yang kecil sudah terbawa iri, kalau kakaknya gelendotan, mesti deh, merengek-rengek minta dipeluk juga. Hidup tanpa asisten dengan dua anak kadang bikin pikiran gak sehat hihihihi.

Acara vakum + ngepel seisi rumah yang harusnya cuma makan waktu sejam bisa menjadi ribet karena mereka ikut ‘kepo’ :P.

Tapi teringat akan ada nanti masa-masanya, mereka tumbuh menjadi bujang dan tak merasa perlu lagi “memegang tangan mama” dan “merengek minta digendong” hehehehe. Dinikmati saja ‘masa manja-manja’nya di saat sekarang :).

Karena tak berlebihan bila akan datang saatnya nanti kita akan merenung sembari berucap… “you don’t know what you’ve got until it’s gone.”

Selamat menjalankan sisa ramadan, teman-teman :). Tetap semangat ^_^.

9 thoughts on “Until It’s Gone

  1. seru banget punya saudara ada 6.. jaman sekarang punya anak 7 bisa terkaing kaing kali..
    gw juga keluarga besar, 6 bersaudara.. tiap hari merusuh

    • Hehehehehehe… emang gak bisa bayangin deh kalau zaman sekarang bisa punya anak banyak :D. Ini punya 2 aja udah ngos-ngosan. Tapi 2 terlalu dikit sih. 3 lah minimal mah :P.

  2. hahahahah iya 7 gile aja lu *udah yakin rambut bakal keriting abis dan suara meninggu 8 oktaf*. Salut deh sama ibu jaman dulu . Kami cuma ber 3, Jihan, dan mamakku serihg kali ngomong “anak orang 10 nggak seribut kalian!!” kayaknya jaman dulu udah lebay deh mamakku

    • Hihihihihihi, tiap zaman punya pertaruhan masing-masing, ya :). Dulu dan sekarang beda masalah, beda susahnya, beda pula senangnya :D.

  3. Love bgt sama mamanya kakjee dari pertama kali aku sudah kagum bgt kak.. bisa membesarkan anak-anaknya dan alhamdulillah skrng semuanya sukses! Seneng bgt deh setiap kali membaca cerita ttg keluarganya apalagi sodaranya kakjee.. *Uhhh peluk mamanyaa kakjeee kalau nnti aku Ketemu aku mau bawain bungaa ahhihi* *uptss.. hehe ๐Ÿ˜€

Comments are closed.